Sabtu, 01 Maret 2014

LOVE IS THE MOMENT



Ep. 2 Berganti Senja

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”
            Ini sudah ketiga kalinya aku mengubungi Roni, lama-lama aku tinggal juga ini anak. Setiap hari aku tetap stay didepan rumahnya teriak-teriak buat jemput dia pergi sekolah barengan. Lama-lama telat lagi dah aku ini.
‘Greeekkk…..”
Tiba-tiba suara gerbang mengagetkanku. “hehehhe”. Dia hanya cengar cengir dengan penampilan kusut seperti belum mandi. “Kamu gak mandi Ron?”, ia hanya tertawa. Seperti biasanya dan seperti hari-hari sebelumnya dia gak mandi lagi. Hmm.. wajarlah, dia pasti telat bangun karena gak ada yang bangunin, ibunya sibuk keluar kota ngurusin bisnis kain sutra yang super sibuk, sedangkan ayahnya sibuk kepedesaan untuk memimpin proyek-proyek jalan yang harus cepat selesai, dan kakaknya yang ribet banget sama masalah pacarnya, yang kerjaannya galau mulu. Sedangkan dirumah dia biasanya cuman ditemani seorang pembantu rumah tangga yang sudah lumayan tua, yah mungkin gak telaten lah ngurusin dia.
Makanya setiap pagi aku selalu stay didepan rumahnya, udah kayak satpam aja. Tapi gak apalah, ini semua demi sahabat yang dari SD, SMP, bahkan sampai saat ini masih setia menemaniku. Aduh, aku mulai alay. Heheheh..
“Ayok cepetan Ron, mati kita kalau tiga hari harus berturut-turut telat, bias-bisa orang tua dipanggil nih”. Cuuuuussssss….. aku langsung bergegas mengendarai motor kesayanganku.
“Turun Ron, udah sampe nih, cepetan sana bukain gerbang dulu”. Roni kemudian berlari membuka gerbang. Aku lalu memarkirkan motorku ditempat biasa, didekat pohon beringin itu. Lalu kami bergegas menuju ruang kelas. Sekilas mataku terpancing akan seseorang yang sedang sibuk menengok kiri kanan seakan mencari sesuatu dibawah pohon beringin itu, namun hanya terlihat dari belakang.
“Cepet Rangga, pak Goris itu udah mau masuk kelas!!” tarik Roni dengan muka pucat karena takut keduluan sama pak Goris, guru BP killer yang kerjanya cuman marahin anak muridnya kalau dia udah duluan masuk. Kami kemudian berlari, aku memalingkan penglihatanku tanpa melihat siapa dan bagaimana wajah orang itu.
“Nak, yang mau daftar snmptn, segera maju kedepan.” Lagi-lagi bahas masalah kuliah, ujian aja belum udah ngebahas ini mulu. Pusing jadinya mau masuk dimana kalau mau daftar aja dikejar-kejar begini.
“Heh, daftar dimana kamu ? UI? Atau UB? “ Tanya Roni penasaran. Kayaknya dia mau satu kampus lagi sama aku, sejak dulu selalu begini. “Belum tau Ron, kamu dimana? “ Eh dia malah cengengesan nggak jelas.
Tengggg…tenggg…tenggg….
Ah, bunyi bel pelajaran pak Goris udah selesai. Kayaknya sekarang aku harus menghadap langsung deh ke ruang BP.
Cuuuuusss… aku menuju ruang BP setelah merapikan buku.
Took..toookkk….
Aku mengetuk pintu ruang BP, lalu “masuk nak, buka langsung” suara pak Goris yang lantang memintaku langsung saja masuk dan membuka pintu.
Kemudian aku terkaget, “duduk dulu nak, ngantri dulu,ini bapak urus Aliya dulu sebentar.”katanya dan kemudian aku duduk menunggu.
Aku kemudian menguping pembicaraan mereka, ternyata Aliya sedang mengajukan bidikmisi untuk memasuki universitas. Tapi daritadi dia belum menyebutkan universitas mana yang akan ia masuki.
Dari situ aku baru tau kalau selama ini mungkin Aliya berasal dari keluarga yang kurang mampu, pantasan saja jarang sekali aku melihatnya kekantin. Kesekolah saja ia selalu menggunakan sepeda ontel yang ada keranjang didepannya.
Lima menit kemudian, dia bangun dan berbalik, namun ia hanya menunduk saja dan bergegas keluar ruangan. Entah kenapa, mungkin ia malu.
“sini Rangga, ada apa?” kata pak Goris. Aku memberitahu pak Goris bahwa aku ingin mendaftar di UB . dia kemudian memberikan persyaratan yang harus aku bawa besok. Aku lalu bergegas keluar. Lari menuju kelas dan kemudian membongkar tasku, mencari buku biru yang beberapa waktu lalu aku temukan.
Tidak sengaja halaman terakhirnya terbuka, disudut kiri bawah ada ukiran nama “A.K”. entah siapa, wanita atau laki-laki. Tapi dari ukiran, gaya bahasa dan tulisannya seperti seorang wanita.
Aku membuka lembaran keempat ,
“sejak kapan, entah apa dan ini rasa apa, aku selalu mendangmu walau benci itu terselip. Memang benar, hitam awan itu menjadi terik saat kau setiap kali memandang, entah kau tersadar atau tidak, aku selalu saja melihat dari jauh dan itu saja sudah terasa indah”.
Lagi-lagi Aliya muncul dalam benakku. Entah bagaimana bisa, tiba-tiba saja ada sesuatu yang sedang aku rasakan.
Ternyata sudah hamper petang aku disekolah karena pengayaan untuk ujian sekolah beberapa hari lagi. Sekarang waktunya pulang.
Aliya terlihat dibawah pohon beringin sedang melamun, melihat kearah matahari yang akan berganti menjadi senja. Sejenak aku merasa apa yang salah dengan Aliya, ia sama sekali tidak menyebalkan, hanya saja saat bertatapan aku meraasa aneh.

“ngapain disini?” kataku mengagetkannya. Kemudian ia memakai tasnya dan berlari menuju sepedanya lalu pulang. Aku hanya terdiam melihatnya bertingkah seperti melihat hantu.

Senin, 20 Januari 2014

Love Is The Moment



Ep. 1 Buku Biru


“eh aku kekantin aja ya, kamu balik duluan!” menepuk pundakku lalu pergi meninggalkanku. Yah, begitulah Roni anak laki-laki yang aku kenal sejak aku berusia lima tahun dan sekarang usiaku tujuh belas tahun. Kita bersama setengah dari hidup kita masing-masing, lumayan lama.
            Aku hanya mengangguk dan melambaikan tanganku kemudian memasukkan kembali kedua tanganku kesaku celanaku dan melangkah menuju kelas. Namun aku terhenti dibawah pohon beringin yang rindang dan duduk sejenak. Ada sebuah pantar kecil dibawahnya dan disini lumayan sepi setiap kali istirahat. Aku selalu duduk disini selama lima menit kemudian kembali lagi kekelasku. Seperti biasa aku hanya memandang kedepan entah apa yang aku pandang dengan tatapan kosong, hanya hampa dan entah apa yang ada dalam pikiranku, begitu hampa pula.
            Aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku ganjal kebelakang. Menghirup udara dibawah pohon beringin yang berusia sekitar empat puluh tahun  ini begitu menyejukkan. Sampai tak ada tatapan dan tak ada pikiran yang aku punya setiap kali aku mampir dan duduk disini. Terlebih lagi pada saat sore hari, begitu adem dan menenangkan pikiran.
            Tiba-tiba Roni datang dan menepuk pundakku, “heh, seperti biasa, masih disini? Lihat apa Rangga?”
            “gak ada, ayo balik kekelas, sekarang pelajaran matematika.” Kemudian aku mendorongnya dan tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu. Aku bergegas berbalik dan melihat. Aku terheran, dan segera mengambilnya lalu kembali ke kelas. Hari ini pelajaran matematika sampai pulang.
            Aku mengeluarkan buku matematika, dan buku warna biru dengan sampul bening seperti buku Diary dengan pulpen corak bintang warna warni. Kira-kira siapa ya yang punya buku ini, laki-laki atau perempuan, sekolah disini atau bukan, kelas tiga atau dua atau satu ya. Ah, aku begitu penasaran sampai ingin membuka buku ini. Tapi apa ini sopan? Bagaimana kalau isinya penting? Tapi kalau aku tidak melihat isi buku ini maka aku pasti gak akan tau siapa pemiliknya. Siapa tau ada keterangan mengenai identitas yang punya buku ini.
            Kemudian aku memberanikan diri untuk membuka buku ini. Lembar pertama sama sekali tak ada identitasnya. Kemudian lembar kedua :
            “kadang aku ingin didekatmu, melindungimu dari teriknya matahari agar kamu tetap diam di situ dan aku mampu memandangmu dengan tidak mengedipkan mataku. Tapi sayang, aku masih saja bukan beringin itu”
            Membaca itu aku sedikit terheran, siapa pemilik buku ini ya? Ini jelas-jelas kata-kata seorang wanita dan kata-katanya bermakna dalam. Indah namun tidak begitu indah kerena kurang khiasan. Wanita ini hobby menulis, sama seperti aku. Tanpa sadar, aku padahal baru saja membaca halaman pertama bel pulang telah berbunyi. Akhirnya, pulang juga. Semakin lama sekolah semakin lama saja pulangnya, jadi semakin lelah karena pengayaan pula. 
            “kenapa kamu? Kok loyo?” Roni menggoda.
            “laper laper laper” kataku sambil berteriak ditelinganya.
            “heh, biasa aja kale bro. eh bentar lagi kelasnya Aliya keluar tuh. Hati-hati deh ntar kalian berkelahi lagi kayak kucing sama anjing aja” sindirnya sambil cengar cengir.
            Aliya itu cewek yang menyebalkan. Kita jadi musuh karena dulu masalah buku diperpustakaan. Yah ini sih salahku tapi menurutku sama sekali gak salah kok. Hehhe. Gara-gara itu sampai sekarang aku jadi sering berantem kalo ketemu, bawaanku sih jengkel banget kalo ketemu Aliya, tapi mau gimana lagi orang kita satu sekolah. hehhe..
            Roni kemudian menarikku dan membuyarkan hayalanku. Kami kemudian pulang, dan aku sedikit menengok ke kelas Aliya. Ternyata mereka ada jadwal pengayaan Bahasa Indonesia sekarang. Aku tertawa kecil, dan tidak sengaja Aliya berbalik melihat kearahku. Lah aku tertankap basah menertawainya. Kemudian matanya melotot dan siap untuk loncat, tatapannya itu menyeramkan sekali, aku kemudian mempercepat langkahku dan menyusul Roni. Hehhe

Sabtu, 11 Januari 2014

Ep. 22 Mulai Pupus

Terlalu lelah mengejarmu dan hanya harapan yang aku pegang.
Harapan seperti pasir yang kemudian perlahan jatuh hingga tak ada harapan yang aku pegang lagi. semua hilang hingga menyayat tanganku.
aku lelah Bintang.
kau hanya berlari dan terus berlari tanpa menengok dan memperhatikanku.
peluhku habis mengguyur seluruh raut wajahku seperti banjir menghabisi seluruh pemukiman sekitarnya.
yah, aku mulai berjalan perlahan dan mulai mengatur nafasku, ah namun tak mampu lagi teratur dengan rapi.
aku terengah-engah dan mulai berhenti kemudian berjalan lagi, bahkan aku tak mampu melihatmu yang begitu jauh. jauh sekali hingga burung tak mampu mengejar jika aku terbang bersamanya.
pupus sudah..
bukan karena aku lelah mengejarmu, tidak !
hanya saja aku merasa kau tak ingin aku berlari disampingmu. iya bukan?
sekrang harus aku terbangun dari begitu banyak mimpi yang kau beri dan tak mampu aku genggam layaknya menggenggam batu rapuh.
yah, ini mungkin benar-benar pupus.
maaf jika tak mampu memupuk perasaan ini menjadi sangat subur ..
bukan aku tak mau, karna ini memang salahku mengejarmu dengan kekuatan yang tak seberapa dibandingkan denganmu.
larilah, lari hingga perasaanku bukan sekedar pupus namun hilang selamanya dan jika kau kembali aku hanya akan tersenyum dan berpaling darimu.
yah, akan pupus. dan akan aku cari Bintang lain, Bintang yang tak lari sangat kencang hingga tak mampu aku kejar, iya bukan?
ini akhirnya, TERIMA KASIH BINTANG KU :*


                                                                         TAMAT

Jumat, 13 Desember 2013

Ep. 21 Andai Aku Datar .

aku mungkin memilih kecewa Bintang daripada bahagia dengan beribu kebohonganmu.
aku tak tau namun aku tau. tak tau bagaimana perasaanmu namun aku tau siapa yang ada dihatimu, bukan aku.
aku tak ada namun aku ada. tak ada dalam hatimu namun aku ada saat kau memang butuh aku.
aku tak kecewa namun aku kecewa. tak kecewa didepanmu namun dalam hatiku selalu kecewa.
aku tak pergi namun aku pergi. tak pergi saat kau dihadapanku dan melihatku, namun pergi saat kamu memang deengan wanita yang ada didalam hatimu.
aku tak sedih namun aku sedih, aku tak gundah namun aku gundah. aku tak menangis tapi air mata ini mengalir seperti air dialiran sungai, dengan tenang, dengan lembut dan mengikis batu berisakkan gemuruh seperti tangisku. oh andai saja.