Kenangan
Tangis dan Tawa Ku karena Mu
Teriakkan
penonton meramaikan acara Lomba Cerdas Cermat antar sekolah SMA/SMK/MA
sederajat di daerahku hari ini. Dag..dig..dug.. begitu cepat detak jantungku, tidak
henti aku meremas-remas jemariku karena snagking gugupnya. Hampir seluruh siswa
berprestasi disekolahnya masing-masing berkumpul hari ini. Berada
ditengah-tengah siswa-siswa berprestasi ini membuat aku lebih gugup dari
biasanya, padahal bisa dibilang ini bukan kali pertama aku mengikuti Lomba
Cerdas Cermat. Dari nomor regu satu sampai dengan tiga maju untuk putaran
pertama. Sampai pada nomor undi delapan, wajahku mulai dibanjiri peluhku yang
tak henti. Ini nomor undi sekolah ku. Berbarengan dengan SMA 1 Alas dan SMA 1
Empang, ini sangat sulit melihat siswa-siswanya yang begitu bersemangat.
Tanganku gemetaran dan detak jantungku berdetak begitu cepat.
“coba cubit tanganku”, kataku menyuruh
Yuni salah satu anggota regu Lomba Cerdas Cermat untuk mencubit tanganku. Ia
kemudian mencubitku sampai memar, tapi rasa gugupku belum juga hilang. Juri
mulai membacakan soal, sekarang giliran soal reguku. Satu persatu tim reguku
mulai menjawab soal dan seluruh soal telah kami jawab dengan sedikit kesalahan.
Hehe.. rasa gugupku semakin lama menghilang karena senang bisa masuk final.
Kami melawan SMA 1 Sumbawa dan SMA 1 Tarano. Lawan yang sangat kuat, apalagi
setiap tahunnya kedua tim itu selalu memegang juara, namun aku tetap optimis.
Beberapa
menit berlalu, sekarang penentuan untuk juara. Saat ini skor masih sama dan saling
mengejar tim lawan. Kemudian juri melemparkan satu pertanyaan. Tim kami
memencet bel namun keduluan sama SMA 1 Sumbawa, yah sudah jelas sekarang juara
pertama adalah mereka. Juri lalu melemparkan pertanyaan terakhir, aku dengan
semangat langsung memencet bel tanpa berfikir apakah kami tahu jawabannya atau
tidak. Pertanyaannya aku tahu ! Aku langsung menjawab dengan lantang, dengan
begitu sudah jelas kami juara kedua nya dan juara ketiga adalah SMA Tarano.
Aku
dipeluk erat oleh anggota timku, guru Pembina ku berteriak menyoraki karena
senang tahun ini kami membawa piala. Aku mengarahkan pandanganku ke sudut
penonton dan para peserta lomba tadi, kemudian ada seseorang mengacungkan
jempolnya dan tersenyum manis entah mengarah ke aku atau orang lain. Aku menoleh
ke kiri dan kanan tidak ada siapa-siapa dan orang itu masih saja mengacungkan
jempolnya malahan tertawa kecil, mungkin karena aneh melihatku celingukkan
sendiri. Aku kemudian pergi menghampiri pembinaku.
“selamet ya nak,oya dapet salam dari anak SMA
1 Alas tadi dia bilang ke ibu”, tiba-tiba guruku mencubit pipiku. Hah?
Dapet salam? Tumben dapet salam. Aku hanya tertawa dan memeluk erat guruku
karena sangat bahagia. Seluruh tim kemudian kembali ke kamar masing-masing
untuk berganti pakaian kemudian esoknya cek out dari hotel.
Sorenya
aku duduk di lobi hotel sambil membaca novel. “hey,” sambil menepuk pundakku, aku terkejut dan sejenak mataku
melotot. Tiba-tiba cowok cute duduk
disampingku sambil tersenyum. Aku tercengang dan heran, entah siapa orang ini.
“kenalin nama ku Alam, tadi yang minta salam
sama kamu” sapanya, lagi-lagi dengan senyum yang begitu menggugah
penglihatanku. “iya maaf tadi saya kira
siapa, nama saya ekha, salam kenal deh dari saya”, sambil tersenyum malu
sampai kikuk rasanya habis ini mau bilang apalagi. Dia mulai membuka
pembicaraan, bertanya mengenai sekolahku. Aku kelas berapa, aku tinggal dimana,
saudaraku berapa, banyak deh dan kadang sesekali kami tertawa karena hal-hal
lucu yang ia ceritakan.
Setelah
bercerita, di pertengahan waktu aku merasa ada yang sedikit aneh. Seperti telah
mengenal sosoknya dari dulu dan tak asing lagi bagiku. Ah, mungkin ini hanya
perasaanku saja yang baru bertemu cowok cute
plus keren abis kayak gini. Lagipula dia tinggalnya jauh dari daerah sini
jadinya mana mungkin sih bisa ketemu sebelumnya.
“kok bengong? Kakak balik duluan ya,
kapan-kapan cerita lagi. Eh boleh minta nomor hp nya gak dek?” buseettt..
nomor Hp ku diminta lagi. Aku langsung ngasi sambil kegirangan dalam hati.
Mimpi apa semalem ya bisa kenal cowok ini hari ini. Hehehe.. aku juga langsung
ikutan bali ke kamar sambil jingkrak-jingkrak.
“eh kenapa kamu? Kayak orang gila aja
jingkrak-jingkrak”, protes Yuni sambil menarik tanganku dengan erat. Aku
hanya tertawa kegirangan sambil membaca sms yang tiba-tiba masuk. Ehh tau-tau
nya dari kak Alam. Aku langsung duduk manis di atas kasur sambil mikir kata
buat balas sms. “jangan terlalu di
plototin tuh Hp”, hah Yuni sewot aja dari tadi. Aku malahan ketawa
terbahak-bahak ngeliat tingkah lakunya.
****
Keesokkannya seluruh sekolah cek out dari
hotel. Aku celingukkan mencari-cari kakak itu, tapi belum kelihatan juga, ah
mungkin sudah cek out duluan. Aku kemudian menyusul Yuni yang sedang menunggu
didepan gerbang. Sekitar delapan langkah, seseorang menarik tanganku. Aku
langsung berbalik dan terkejut. Ternyata kak Alam. Ia terlihat ngos-ngosan dan
peluhnya membasahi wajahnya. Sepertinya ia habis berlari kesini.
“tunggu dek. Sorry telat. Ini buat kamu.” Ia
berbicara dengan nafas terengah-engah. Potongan kain kecil persegi dengan
bordoran cantik warna ungu dengan dasar kuning. Ia menyodorkan sapu tangan itu
dan memberikannya untukku sebagai kenang-kenangan. Rasanya mau loncat
tinggi-tinggi tapi malu jadinya cuman bisa senyum sambil bilang makasih. Aku
langsung berlambai tangan dan menuju gerbang soalnya nenek sihir udah nungguin
digerbang, nanti kalau telat bisa-bisa aku di sihir lagi. Hihihi
Yuni
itu temen aku dari SMP, sampai sekarang. Kita memang sering berantem, berbeda
pendapat bahkan sampai konflik tapi kita tetep aja baikan lagi. Kadang kita
sampai musuhan juga gak teguran, tapi akhirnya kita balik lagi jadi sahabat.
Susah banget ngedapetin temen kayak dia, walaupun nyebelin tapi dia itu manusia
paling ngerti aku.
****
Selama
beberapa hari kami sering berkiriman pesan, setiap saat malahan. Aku dan kak
Alam maksudnya. Bahkan herannya, ada saja bahan obrolan yang dibicarain jadinya
kita ngobrol gak garing. Ternyata setelah lama sms-an dia asyik banget,
perhatian juga pastinya belum punya pacar. Itu sih katanya, semoga aja bener.
Seperti
hari biasanya, aku melalui hari dengan berbagai aktivitas rutinku. Bedanya
sekarang ada seseorang yang special yang setiap pagi selalu sms kayak gini, “Pagi dek. Selamat berjuang untuk bertahan”.
Nah, kalau sms nya sudah nongol di layar Hp, cepat-cepat deh aku balesnya.
Sebulan,
dua bulan, tiga bulan, kemudian bulan ini. Bulan ke empat yang aku rasa kurang
menyenangkan. Kita mulai jarang berkomunikasi, jarang telfon bahkan jarang
mengirim pesan. Bukan aku, tapi Kak Alam yang mulai hilang entah apa yang
sedang dilakukan. Setiap pagi aku sms jarang banget mau dibales. Kadang
seminggu sekali baru dibales, jadinya cuman menanti deh.
Pas
nungguin Hp, smsnya kak Alam tiba-tiba nongol.
“dek,
ada yang saya mau bicarain”, sms pertamanya dari
hampir dua bulan berlalu tanpa kabar, sedangkan aku yang setiap pagi sms gak
pernah absen sama sekali.
“kenapa
kkak? Dari mana aja? Saya selalu coba hubungin kkak tapi kkak gak pernah
hubungin balik “, jawabku miris. Lima menit kemudian.
“maafin
saya dek, saya cuman mau bilang kalau saya sekarang gak bisa sering-sering sms
kamu.” Deg.. hatiku langsung menggetuk kaget.
“loh
kenapa kak? Kkak punya pacar?,” balas ku kilat.
“begitulah
dek. Maafin saya bukan maksud saya nyakitin kamu. Saya jauh lebih sayang kamu
tapi saya mikir lagi. Saya cuman gak mau ganggu konsentrasi kamu belajar,
lagian sekarang ini kan menjelang ulangan semester.” Alasannya
yang begitu rapi sehingga tidak terlalu menyakiti hatiku, tapi tetap saja sakit
hati.
“ya
sudah kkak. Ku ambil hikmah-Nya, rasakan nikmat-Nya dank u coba hadapi. Saya
tetep disini kak.” Kataku yang hanya pura-pura menjadi
wanita kuat tapi sebenarnya gak sanggup.
“sekali
lagi maafin saya dek, tolong inget dek. Saya bakalan balik nyari kamu dek dan
saya bakalan ganti luka yang pernah saya goreskan dihatimu dengan bahagia.” Balasnya
dua menit kemudian. Siapa yang tahan kalau cowok yang paling kita sayang dan
paling kita suka tiba-tiba punya pacar terus bilang kayak gitu. Aku gak tahan.
Seketika setelah sms
terakhir, dia hilang begitu saja. Cuman segitu? Iya cuman segitu kabar yang dia
kasih. Perlahan aku mulai merenungi maksudnya dan mencoba berpikir positif.
Sambil duduk di depan pintu aku membaca pesannya dari beberapa bulan yang lalu
sampai sekarang belum aku hapus. Tiba-tiba rintikan membasahi tanganku. Ternyata air mataku yang tak mampu aku tahan
lagi. Entah seperti apa rasanya, yang jelas ini terasa sangat sakit tapi entah
dimana lukanya dan sebesar apa hingga sesakit ini dan aku menangis. Ini untuk
yang pertama kalinya aku menangis. Dan itu karena cinta pertama yang aku kira
indah.
****
( 1 tahun kemudian ) …
“eh kak eka, nanti malam jangan lupa ya.
Dilantai tiga kantor bupati.” Ayas mengingatkanku untuk menghadiri acara
nonton bareng dalam bentuk kuliah umum yang diselanggarain universitas
teknologi Sumbawa. Aku hanya melambaikan tangan dengan tersenyum.
Hah,
ternyata sudah setahun berlalu semenjak kejadian itu. Aku memutuskan hanya
untuk menunggu dan menutup hati sementara. Bahkan aku masih disini bukan untuk
mencoba melepaskan atau mencoba membebaskan perasaan cintaku. Mungkin menunggu
hal yang tidak pasti, tapi dengan begini juga aku jadi termotivasi supaya bisa
belajar dengan tekun.
Aku
kemudian pulang kerumah dan bersiap-siap untuk nanti malam. Sebenarnya capek
banget, disekolah tadi kegiatan full belum lagi lanjut sampai sore. Ah, pergi
gak ya, aku bingung. Tumben banget aku ragu-ragu kayak gini, biasanya yang
namanya nonton bareng begini aku paling hobby, selain bisa dapet tontonan
gratis aku juga bisa keluar deh. Hehhee, akal anak muda.
( malam hari )
..
Sms
masuk, “kkak cepetan” . ternyata
delapan kali Ayas sms aku. Ah, pasti mereka udah ngumpul disana makanya dari
tad isms mulu. Ini nih susahnya jadi kakak kelas, harus merangkap jadi
pendamping juga. ( sambil bergegas berangkat )
Tiba
di parkiran kantor bupati, aku langsung naik menuju lantai tiga. Wah ternyata
ruangannya udah penuh banget. Aku celingukkan nyariin Ayas dan anak-anak
lainnya. Dari jauh Ayas melambaikan tangannya dengan ekspresi wajah kegirangan.
Ah, kayak lihat apa aja ini anak. Aku langsung menghampiri mereka dan duduk
sebelum acara dimulai. “kakak lama
sekali, bentar lagi dimulai ini tau” katanya ngomel-ngomel. Aku hanya
celingukkan melihat sekitar yang ternyata sebagian besar pesertanya itu anak
kuliahan.
Acara
kemudian dimulai, pembawa acara membacakan susunan acara yang akan
dilaksanakan. Salah satu acaranya yaitu sesi Tanya jawab. Waduh, aku harus
bertanya ini yah supaya ada nampang dikitlah. Hehhe.. lagian hadiahnya juga
buku terbitan baru sama tanda tangan penulisnya sendiri, aduh kapan lagi coba
bisa dapet tanda tangan pemiliknya secara langsung.
(jrennggg tiba di sesi Tanya jawab setelah sekian
lama sutradaranya ceramah)
Seluruh
peserta berebut untuk mendapatkan kesempatan bertanya. Dari peserta pertama
sampai keempat anak kuliahan semua. Setelah empat peserta bertanya, kemudian
sutradara menjawab seluruh pertanyaan peserta. Masih ada sesi kedua untuk Tanya
jawab. Aku kemudian bergegas mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Nah sekarang
empat peserta sudah terpilih termasuk aku. Kemudian aku bertanya. Peserta kedua
kemudian peserta ketiga dan yang terakhir peserta keempat.
“terima kasih atas kesempatan yang telah
diberikan, perkenalkan nama saya insan akbar alamsyah dari prodi teknik
metalurgi universitas Sumbawa”. Perkenalan diri peserta ke empat. Aku
kemudian berdiri mendengarkan nama itu dan melihat siapa orang itu. Aku
terkejut dan hanya berdiri seperti orang yang sedang melihat hantu.
Aku
mengusap mataku berkali-kali. Ini tidak mungkin. Mungkin hanya perasaanku saja.
Kemudian aku duduk. Sutradara itu kemudian menjawab seluruh pertanyaan kami.
Yah, sesi pertanyaan telah usai. Sekarang waktunya pembagian buku, dan
kedelapan peserta yang bertanya tadi maju untuk menerima hadiah serta foto
bareng. Aku maju, dan disampingku cowok tadi berdiri tegak dengan pandangan
selalu kedepan. Sedangkan aku hanya menatapnya dari samping dan dalam hati
bergumam bahwa ini sama sekali tidak mungkin. Mungkin ini mimpi tapi ini mimpi
yang begitu nyata.
Dia
berbalik, “dek, masih inget kkak?” katanya dengan senyuman itu. Aku kemudian
berbalik menatap kedepan dan berdiam diri. Setelah berfoto aku kemudian bergegas
menuju parkiran.
“dek tunggu,” dia mengejarku dan menarik
tanganku. Aku kemudian berdiam diri lagi dan berbalik. “eh kkak, saya kira siapa tadi, soalnya agak lupa. Maaf maaf” , aku
mengelak. Mana mungkin bisa lupa sama sosok yang ngenalin aku sama cinta yang
begitu nyakitin. Aku menarik tanganku dan hanya tersenyum. Dia menarikku lagi
dan mengajakku keluar dari kerumunan para peserta yang mengambil motor mereka
dan hendak pulang.
“ada apa kak?saya mau pulang, udah keburu
malem nih” kataku mencari alasan agar segera menghilang dari hadapannya. Tapi
malahan tangannku ditahan dengan kuat. Lah mana bisa aku ngelepas dengan tenaga
kayak gini.
“kamu marah sama kkak? Maafin kkak dek. “ katanya
dengan wajah lugu tanpa dosa !
Sedangkan aku yang sewaktu-waktu bakalan
meledak. Meledak tangis karena sangking gak tahan lihat dia lagi. Dari sekian
lama hilang terus tiba-tiba muncul kayak gini.
“bisa kamu padamkan luka ku?” aku
langsung nyeletuk dengan tatapan penuh kekesalan.
“maafin kkak dek. Kkak kan udah kasi
kekuatan ke kamu selama ini. Kkak cuman nyuruh kamu nunggu” jawabnya dengan
optimis.
Aku
tertawa namun dengan berbarengan air mataku menetes, “apa? Kau berikan kekuatan untuk melewati semua ini? Kekuatan apa? Aku
Tanya kekamu. Bisa, padamkan luka dan beban yang ada yang telah membakar
seluruh jiwaku?” kemudian gertakku dan menarik nafas panjang.
Aku
memalingkan wajahku kemudian pergi. Sepanjang jalan pulang aku hanya diam dan
masih ragu apa yang aku lakukan tadi. Iyah, ini benar. Tindakan ku benar. Cukup
kenangan tangis dan tawaku karena laki-laki itu. Aku sebaiknya melepaskan cinta
yang sekian lama aku kunci di hatiku. Iya, aku yakin. Terkadang sebaiknya aku
harus melepaskan agar yang lain mampu masuk dan menjadi yang terbaik.
=TAMAT=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar