Selasa, 24 September 2013

Ep. 10 Apa Aku Hanya Pelampiasanmu?



Aku lebih memilih untuk diam dan menyendiri. Setelah beberapa minggu yang lalu aku merasa susah. Seperti biasa, sesekali aku mengunjungi senja untuk bercerita keluh kesahku dan hari-hari yang aku lalui, susah bahkan sangat susah dan lebih baik tidak aku mulai.
Hari ini aku mengunjungi senja dengan kertas gambarku. Kelihatannya senja hari ini lebih cerah dari hari sebelumnya, iya setiap hari senja memang akan selalu berubah, jadi terlintas kata-kata Bintang. Huh, aku hanya mampu mendesah dan menarik nafas panjang.
“hm..” suara itu tiba-tiba terdengar sangat tidak asing, aku kemudian mengangkat kepalaku.
kenapa menundukkan kepala? Senja ada disana bukan dibawah” katanya. Aku hanya bengong dan tak mampu berkata apapun. Ini Bintang, iya memang benar ini Bintang bukan hanya hayalanku. Setelah beberapa lama tidak bertemu lalu Ia muncul. Lalu Ia duduk disampingku dan menekukkan kakinya kemudian melipat tangannya. Aku hanya diam, jantungku berdetak sangat kencang, tanganku tiba-tiba berkeringat dingin dan suhu tubuhku menjadi panas.
”berhenti bengong, wajahmu semakin merah. Jangan berfikiran lain-lain, benar ini aku Bintang bukan orang lain.” Katanya. Seperti Ia mampu membaca pikiranku dan menjawabnya dengan nada sedikit tertawa. Aku sendiri menjadi malu dan mulai mengedip-ngedipkan mataku. Hah, entah mengapa terasa sangat canggung, seperti tidak bertemu selama bertahun-tahun padahal kurang lebih baru satu bulan kita tidak bertemu. Baru sebentar saja aku sudah merasa sangat gugup, tidak seperti biasanya.
“kenapa diam saja? Kamu tidak senang aku disini? Bukankah kamu selalu menungguku disini ? iya kan?”katanya lagi seperti menggertakku. Mulutku bahkan sangat kaku tak tau apa yang harus aku katakana, aku hanya diam.
“kamu bingung? Apa ini pertama kalinya kamu jatuh cinta? Biasanya wanita seperti kamu akan hilang saat mengetahui bagaimana aku yang sebenarnya. Lalu mengapa kamu bertahan? Aku ini bukan laki-laki yang baik”, sahutnya lagi. Entah bagaimana otaknya bekerja hingga kata-kata itu mampu menusukku dan menyudutkanku, hanya orang yang pernah sakit hati saja yang mampu berkata seperti ini, bahkan dengan enteng Ia berkata seperti seorang handal yang sering bermain drama.
Kemudian sahutku,
“aku tau, bahkan tak perlu kau perjelas lagi, aku bukan wanita bodoh, bahkan jangan sekali-kali kamu samakan aku dengan wanita lain.” , ia menggaruk kepalanya dan menyahutku lagi.
“lalu mengapa selalu menungguku? Bukankah aku sudah katakan untuk tidak menungguku lagi di saat senja?”, kami seperti pasangan yang sedang bertengkar saja. Nafasku seakan cepat karna emosi yang tak mampu ku bending lagi, aku memandangnya seakan kami akan melakukan pertandingan dan beradu untuk mencari pemenangnya.
“ini senjaku, dan disini tempatku. Lalu kamu? Mengapa menghampiriku? Jika ingin menghilang silahkan menghilang saja jangan muncul lagi dihadapanku. Bukankah kamu juga selalu memperhatikanku sehingga kamu tau bahwa aku selalu menunggumu bukan?” dengan ketusku jawab pertanyaannya, ini sama saja dengan menyakitiku. Tak pernah terpikirkan aku akan membentaknya seperti ini. Memang benar, ini pertama kali aku jatuh cinta, dan begitu menyakitkan. Semakin aku melupakan laki-laki ini, saat itupula aku sadar bahwa cinta ini akan semakin memenuhi ruang dihatiku hingga tak ada sedikitpun ruang yang tersisa.
“aku tidak percaya cinta, wanita yang pertama aku cinta yang membuat aku menjadi seperti ini. Bahkan cinta yang wanita katakana itu hanya omongan saja. Makanya sampai sekarang aku hanya bermain-main pula dengan wanita.” Bahasnya sedikit demi sedikit tentang masa lalunya. Nah, sekarang dugaanku benar, Ia memang pernah sakit hati hingga mampu seperti ini. Aku hanya menghela nafas dan emosiku menurun. Aku mulai bersabar, amarahkupun semakin lama menjadi hilang, karna ini bukan salahnya hanya saja mungkin Ia trauma karna cinta pertamanya.
“Apa kamu sedang menjadikanku sebagai mainanmu? Apa aku hanya pelampiasanmu? Iya begitu? Apa kamu bahagia karna melihat ku jatuh kedalam jurang yang kamu pasang didepan hidupku, dan hingga kini aku tak mampu keluar?” sahutku dengan air mata yang menetes perlahan diikuti dengan isakkan tangisku. Kemudian Ia terkejut mendengarnya. Ia membalikkan badannya dan menaruh tangannya dipipiku kemudian menghapus air mataku.
“apa ini pertama kalinya kamu meneteskan air matamu karna cinta?” tanyanya seperti seorang yang bangga karna mampu menaklukkan seseorang yang selama ini tidak mengenal cinta sama sekali.
“tidak, ini yang kedua kalinya” jawabku dengan isakkan.
“lalu yang pertama karna siapa?” tanyanya kembali.
“karna kamu, aku melihatmu bersama seorang wanita dan tawa bahagia diwajahmu. Iya, aku selalu menunggumu saat senja. Walaupun aku melihatmu saat itu dan membuatku sakit hati, namun kaki ku tetap saja melangkah ke sini untuk menunggumu.” Tegasku.
Kemudian Ia hanya menghela nafas seperti seorang yang merasa bersalah dan masih kulanjutkan isakkan tangisku  hingga didadaku benar-benar kosong tak ada beban.
“jangan jadikan aku pelampiasanmmu, jangan juga samakan aku dengan wanita lain. Saat kamu tidak datangpun aku akan tetap menunggumu bahkan jika aku sakit dan jika aku lelah sangat lelah. Jika kamu tak ingin aku ada dihidupmu, ya sudah jangan muncul lagi dihadapanku.” Kataku sambil menghapus air mataku.
Ia kemudian tersenyum dan memandang senja, seperti berdoa namun entah apa yang Ia mohonkan hingga seserius itu. Kemudian Ia menarik tanganku dan mengajakku pulang. Sepanjang jalan aku hanya diam dan Ia terus tersenyum entah apa sebenarnya yang Ia pikirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar