Aku lebih memilih untuk
diam dan menyendiri. Setelah beberapa minggu yang lalu aku merasa susah.
Seperti biasa, sesekali aku mengunjungi senja untuk bercerita keluh kesahku dan
hari-hari yang aku lalui, susah bahkan sangat susah dan lebih baik tidak aku
mulai.
Hari ini aku
mengunjungi senja dengan kertas gambarku. Kelihatannya senja hari ini lebih
cerah dari hari sebelumnya, iya setiap hari senja memang akan selalu berubah,
jadi terlintas kata-kata Bintang. Huh, aku hanya mampu mendesah dan menarik
nafas panjang.
“hm..”
suara
itu tiba-tiba terdengar sangat tidak asing, aku kemudian mengangkat kepalaku.
“kenapa menundukkan kepala? Senja ada disana bukan dibawah” katanya.
Aku hanya bengong dan tak mampu berkata apapun. Ini Bintang, iya memang benar
ini Bintang bukan hanya hayalanku. Setelah beberapa lama tidak bertemu lalu Ia
muncul. Lalu Ia duduk disampingku dan menekukkan kakinya kemudian melipat
tangannya. Aku hanya diam, jantungku berdetak sangat kencang, tanganku
tiba-tiba berkeringat dingin dan suhu tubuhku menjadi panas.
”berhenti
bengong, wajahmu semakin merah. Jangan berfikiran lain-lain, benar ini aku
Bintang bukan orang lain.” Katanya. Seperti Ia mampu membaca
pikiranku dan menjawabnya dengan nada sedikit tertawa. Aku sendiri menjadi malu
dan mulai mengedip-ngedipkan mataku. Hah, entah mengapa terasa sangat canggung,
seperti tidak bertemu selama bertahun-tahun padahal kurang lebih baru satu
bulan kita tidak bertemu. Baru sebentar saja aku sudah merasa sangat gugup, tidak
seperti biasanya.
“kenapa
diam saja? Kamu tidak senang aku disini? Bukankah kamu selalu menungguku disini
? iya kan?”katanya lagi seperti menggertakku.
Mulutku bahkan sangat kaku tak tau apa yang harus aku katakana, aku hanya diam.
Kemudian sahutku,
“aku
tau, bahkan tak perlu kau perjelas lagi, aku bukan wanita bodoh, bahkan jangan
sekali-kali kamu samakan aku dengan wanita lain.” ,
ia menggaruk kepalanya dan menyahutku lagi.
“lalu
mengapa selalu menungguku? Bukankah aku sudah katakan untuk tidak menungguku
lagi di saat senja?”, kami seperti pasangan yang sedang
bertengkar saja. Nafasku seakan cepat karna emosi yang tak mampu ku bending
lagi, aku memandangnya seakan kami akan melakukan pertandingan dan beradu untuk
mencari pemenangnya.
“ini
senjaku, dan disini tempatku. Lalu kamu? Mengapa menghampiriku? Jika ingin
menghilang silahkan menghilang saja jangan muncul lagi dihadapanku. Bukankah
kamu juga selalu memperhatikanku sehingga kamu tau bahwa aku selalu menunggumu
bukan?” dengan ketusku jawab pertanyaannya, ini sama saja
dengan menyakitiku. Tak pernah terpikirkan aku akan membentaknya seperti ini.
Memang benar, ini pertama kali aku jatuh cinta, dan begitu menyakitkan. Semakin
aku melupakan laki-laki ini, saat itupula aku sadar bahwa cinta ini akan
semakin memenuhi ruang dihatiku hingga tak ada sedikitpun ruang yang tersisa.
“aku
tidak percaya cinta, wanita yang pertama aku cinta yang membuat aku menjadi
seperti ini. Bahkan cinta yang wanita katakana itu hanya omongan saja. Makanya
sampai sekarang aku hanya bermain-main pula dengan wanita.” Bahasnya
sedikit demi sedikit tentang masa lalunya. Nah, sekarang dugaanku benar, Ia
memang pernah sakit hati hingga mampu seperti ini. Aku hanya menghela nafas dan
emosiku menurun. Aku mulai bersabar, amarahkupun semakin lama menjadi hilang,
karna ini bukan salahnya hanya saja mungkin Ia trauma karna cinta pertamanya.
“Apa
kamu sedang menjadikanku sebagai mainanmu? Apa aku hanya pelampiasanmu? Iya
begitu? Apa kamu bahagia karna melihat ku jatuh kedalam jurang yang kamu pasang
didepan hidupku, dan hingga kini aku tak mampu keluar?” sahutku
dengan air mata yang menetes perlahan diikuti dengan isakkan tangisku. Kemudian
Ia terkejut mendengarnya. Ia membalikkan badannya dan menaruh tangannya
dipipiku kemudian menghapus air mataku.
“apa
ini pertama kalinya kamu meneteskan air matamu karna cinta?” tanyanya
seperti seorang yang bangga karna mampu menaklukkan seseorang yang selama ini
tidak mengenal cinta sama sekali.
“tidak,
ini yang kedua kalinya” jawabku dengan isakkan.
“lalu
yang pertama karna siapa?” tanyanya kembali.
“karna
kamu, aku melihatmu bersama seorang wanita dan tawa bahagia diwajahmu. Iya, aku
selalu menunggumu saat senja. Walaupun aku melihatmu saat itu dan membuatku
sakit hati, namun kaki ku tetap saja melangkah ke sini untuk menunggumu.” Tegasku.
Kemudian Ia hanya
menghela nafas seperti seorang yang merasa bersalah dan masih kulanjutkan
isakkan tangisku hingga didadaku
benar-benar kosong tak ada beban.
“jangan
jadikan aku pelampiasanmmu, jangan juga samakan aku dengan wanita lain. Saat
kamu tidak datangpun aku akan tetap menunggumu bahkan jika aku sakit dan jika
aku lelah sangat lelah. Jika kamu tak ingin aku ada dihidupmu, ya sudah jangan
muncul lagi dihadapanku.” Kataku sambil menghapus air mataku.
Ia kemudian tersenyum
dan memandang senja, seperti berdoa namun entah apa yang Ia mohonkan hingga
seserius itu. Kemudian Ia menarik tanganku dan mengajakku pulang. Sepanjang
jalan aku hanya diam dan Ia terus tersenyum entah apa sebenarnya yang Ia
pikirkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar