Selasa, 24 September 2013

Ep. 9 Sekarang Kawanpun Sama Seperti Kamu



            Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, aku masih merasakan sakit hatiku yang tak pernah terbayang sebelumnya, ini lebih sakit dari rasa kecewa. Bahkan ini lebih mengecewakan dari kejadian seminggu yang lalu, nilai ulangan IPA anjlok. Sampai Aku mengurung diri dan memikirkan apa yang sebenarnya  terjadi dengan hidupku.
Didalam kelas aku hanya diam dan tak banyak bicara seperti biasanya. Ibu Hj.Nung guru matematika ku tiba-tiba saja datang dan memberikan kami ulangan harian mendadak, untung saja semalam aku sempat membaca-baca buku matematika walaupun sih kata orang aku termasuk dalam situasi galau.hehe.
Satu persatu soal dibagikan, setiap bangku mendapatkan satu soal dengan dua orang. Aku mulai mengerjakan satu per satu soal itu. Hampir selesai, sisa satu nomor. Ku tengokkan penglihatanku kearah kiri, salah satu temanku memberikan kode kalau Ia meminta jawaban. Aku memintanya menunggu dan aku menuliskan jawaban diselembar kertas dan kulemparkan jawaban itu lalu kukumpulkan hasil kerjaku dimeja guru. Iya, lega rasanya membantunya, selama ini aku selalu membantu mereka.
Mngkin harusnya aku bersenang-senang,sementara mengobati pikiranku tentang Bintang. Hah, menyebut namanya saja membuat aku tak mampu menarik nafasku. Mungkin terlalu cepat aku terlarut dalam perasaan semu ku ini. Tapi Aku juga akrab dengan teman-teman kelasku. Aku duduk sama Wahyu, cewek loh. Kadang juga nimbrung ngerumpi sama yang lain.
****

Hari ini kami bebas dari ulangan dan tugas, sangat lega rasanya setelah melalui MID semester yang membekukan otakku ditambah lagi karna Bintang. Entah bagaimana kabarnya saat ini, tapi aku tetap saja menunggunya di saat senja walaupun akhir-akhir ini Ia tak pernah datang lagi dari terakhir aku melihatnya dengan seorang wanita dan tawa bahagia diwajahnya.
Sekarang aku duduk dan merasa aneh teman-temanku terutama Nugroho. Nugroho adalah salah satu temanku didalam kelas yang bisa dibilang dekat denganku. Terkadang aku membantunya saat Ia membutuhkan bantuanku, entah apa yang menjanggal. Biasanya Ia selalu menyapaku dan duduk-duduk ngumpul sama aku , Okta dan Wahyu tapi sekarang sikapnya berbeda. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi semakin lama, semakin hari aku memang merasa Ia berbeda, entah apa yang terjadi dengan orang-orang sekitarku atau hanya aku saja yang terlalu sensitive karna Bintang yang menyakitiku, iya.. bisa dibilang aku merasa dikhianati tapi Bintang tidak mengkhianatiku.
Iya, terlihat jelas. Mungkin aku hanya akan dibutuhkan saat mereka susah. Nugroho semakin hari sangat cuek, bersikap acuh tak acuh kalau sekali-kali aku menegurnya. Mungkin saja dugaanku benar. Saat ini pelajaran fisika, Ibu Marlina masuk dan menjelaskan kemudian memberikan latihan soal ingin mengambil nilai katanya. Tiba-tiba Nugroho menghampiriku dan tersenyum. “sudah kamu? Ajarkan aku ya.” Katanya dan kemudian duduk disampingku.
Setelah selesai Ia kembali ke grupnya dan tak berbicara apapun. Pikiranku semakin kuat, iya.. memang dia memanfaatkanku. Ah, entah apa sebenarnya salahku, entah apa pula yang terjadi.
Senja. ..
Semua yang dekat hanya akan datang saat mereka tidak memiliki seseorang untuk menopang mereka. Seperti Bintang senja, mungkin aku hanya pelarian, aku bahkan tak tau bagaimana Bintang hidup, bagaimana Bintang yang sebenarnya, dan sekarang kawanpun sama seperti Bintang. Mereka meninggalkan aku saat mereka tidak butuh, dan mereka datang mencari-cariku saat mereka terjepit diantara tebing-tebing tinggi.
Hah.. Senja, apa ini salahku? Iya aku rasa begitu. Aku yang terlalu polos bukan? Mereka terlalu transparan padahal, tapi aku yang terlalu buta. Aku hanya diam dan termenung tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar