Semenjak
kejadian beberapa hari yang lalu, aku masih merasakan sakit hatiku yang tak
pernah terbayang sebelumnya, ini lebih sakit dari rasa kecewa. Bahkan ini lebih
mengecewakan dari kejadian seminggu yang lalu, nilai ulangan IPA anjlok. Sampai
Aku mengurung diri dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupku.
Didalam kelas aku hanya diam dan tak banyak bicara
seperti biasanya. Ibu Hj.Nung guru matematika ku tiba-tiba saja datang dan
memberikan kami ulangan harian mendadak, untung saja semalam aku sempat
membaca-baca buku matematika walaupun sih kata orang aku termasuk dalam situasi
galau.hehe.
Satu persatu soal dibagikan, setiap bangku
mendapatkan satu soal dengan dua orang. Aku mulai mengerjakan satu per satu
soal itu. Hampir selesai, sisa satu nomor. Ku tengokkan penglihatanku kearah
kiri, salah satu temanku memberikan kode kalau Ia meminta jawaban. Aku
memintanya menunggu dan aku menuliskan jawaban diselembar kertas dan
kulemparkan jawaban itu lalu kukumpulkan hasil kerjaku dimeja guru. Iya, lega
rasanya membantunya, selama ini aku selalu membantu mereka.
Mngkin harusnya aku bersenang-senang,sementara
mengobati pikiranku tentang Bintang. Hah, menyebut namanya saja membuat aku tak
mampu menarik nafasku. Mungkin terlalu cepat aku terlarut dalam perasaan semu
ku ini. Tapi Aku juga akrab dengan teman-teman kelasku. Aku duduk sama Wahyu,
cewek loh. Kadang juga nimbrung ngerumpi sama yang lain.
****
Hari ini kami bebas dari ulangan dan tugas, sangat
lega rasanya setelah melalui MID semester yang membekukan otakku ditambah lagi
karna Bintang. Entah bagaimana kabarnya saat ini, tapi aku tetap saja
menunggunya di saat senja walaupun akhir-akhir ini Ia tak pernah datang lagi
dari terakhir aku melihatnya dengan seorang wanita dan tawa bahagia diwajahnya.
Sekarang aku duduk dan merasa aneh teman-temanku
terutama Nugroho. Nugroho adalah salah satu temanku didalam kelas yang bisa
dibilang dekat denganku. Terkadang aku membantunya saat Ia membutuhkan
bantuanku, entah apa yang menjanggal. Biasanya Ia selalu menyapaku dan
duduk-duduk ngumpul sama aku , Okta dan Wahyu tapi sekarang sikapnya berbeda.
Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi semakin lama, semakin hari aku
memang merasa Ia berbeda, entah apa yang terjadi dengan orang-orang sekitarku
atau hanya aku saja yang terlalu sensitive karna Bintang yang menyakitiku,
iya.. bisa dibilang aku merasa dikhianati tapi Bintang tidak mengkhianatiku.
Iya, terlihat jelas. Mungkin aku hanya akan
dibutuhkan saat mereka susah. Nugroho semakin hari sangat cuek, bersikap acuh
tak acuh kalau sekali-kali aku menegurnya. Mungkin saja dugaanku benar. Saat
ini pelajaran fisika, Ibu Marlina masuk dan menjelaskan kemudian memberikan
latihan soal ingin mengambil nilai katanya. Tiba-tiba Nugroho menghampiriku dan
tersenyum. “sudah kamu? Ajarkan aku ya.” Katanya
dan kemudian duduk disampingku.
Setelah selesai Ia kembali ke grupnya dan tak
berbicara apapun. Pikiranku semakin kuat, iya.. memang dia memanfaatkanku. Ah,
entah apa sebenarnya salahku, entah apa pula yang terjadi.
Senja. ..
Semua yang dekat hanya akan datang saat mereka tidak
memiliki seseorang untuk menopang mereka. Seperti Bintang senja, mungkin aku
hanya pelarian, aku bahkan tak tau bagaimana Bintang hidup, bagaimana Bintang
yang sebenarnya, dan sekarang kawanpun sama seperti Bintang. Mereka
meninggalkan aku saat mereka tidak butuh, dan mereka datang mencari-cariku saat
mereka terjepit diantara tebing-tebing tinggi.
Hah.. Senja, apa ini salahku? Iya aku rasa begitu.
Aku yang terlalu polos bukan? Mereka terlalu transparan padahal, tapi aku yang
terlalu buta. Aku hanya diam dan termenung tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar