Keadaan mulai membaik setelah pertemuan kami beberapa
hari yang lalu, kami bertukar nomor Hp dan saling menghubungi. Dari mengucapkan
“selamat pagi” sampai mengucapkan “selamat tidur”, iya bisa dibilang tidak
hentinya kami saling berkiriman pesan. Entah apa yang berbeda, setiap pesan
singkat darinya masuk aku selalu bergegas membalas walaupun sibuk aku selalu
menyempatkan sedikit waktu untuk membalas.
Nanti sore kami janjian akan menonton pameran bersama.
Ini pengalaman pertamaku pergi menonton pameran dengan Bintang bahkan Ia
laki-laki pertama yang akan pergi denganku. Dari jam empat sore aku sudah
berdandan serapi mungkin. Aku gunakan dress kuning berenda kesukaanku dengan
pita biru disudut kirinya kemudian dihiasi dengan motif abstrak, dress ini
adalah hadiah dari Dinda saat ulang tahunku setahun yang lalu. Kugunakan sandal
tali hitam dengan hiasan bunga diatasnya berwarna putih, jadi terlihat sangat
manis.
“tumben
dandan kayak gini” ledeknya sambil tertawa dan mencubit
pipiku. Aku langsung malu, berpikiran apa dandananku terlalu berlebihan ya. Ah,
aku langsung saja menariknya dan berjalan menuju arena pameran. Kami berjalan
keliling, tak pernah semenitpun Ia melepas gandengan tangannya. Iya, kami
memang seperti pasangan yang begitu bahagia.
Tapi hubungan ini
berjalan tanpa status, kami tidak pacaran namun semua orang yang melihat selalu
saja mengira kami pacaran namun mengalir begitu saja. Kami bahagia bersama,
bahkan aku meneteskan air mata layaknya pasangan yang sedang bertengkar. Kami
saling mengirim pesan, saling mendoakan, saling mengingatkan, bahkan Ia sangat
perhatian.
Semakin hari aku
semakin tidak perduli dengan yang Ia katakana bahwa dia seorang laki-laki yang
tidak baik, seakan sekarang aku memang menemukan sosoknya yang sesungguhnya.
Iya, karena masa lalu yang menyakitinya membuat Ia menuutupi dirinya yang
sesungguhnya tapi taka pa sekarang aku mulai yakin walaupun awalnya sakit hati.
Beberapa jam setelah
berkeliling, Ia mengajakku pulang. Ini sungguh melelahkan tapi sangat
menyenangkan. Sepanjang jalan aku hanya tersenyum. Tiba-tiba Bintang bertanya
hal yang mengagetkanku, “kenapa kamu gak
nuntut status sama hubungan kita ini?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tertawa, “kenapa bertanya seperti itu? Aku bukan
wanita yang menuntut status, memang kadang sebuah hubungan harus ada yang
namanya status tapi itu bukan masalah kok, aku ikhlas bahkan tidak pernah
terlintas dipikiranku untuk menuntut status.” Dengan memegang bajunya.
Ia kemudian memandangku
lama melalui kaca spionnya, terlihat sangat jelas kalau Ia sangat heran akan
jawabanku. Kemudian Ia menyahutku lagi, “bagaimana
kalau aku jalan bersama wanita lain?” . aku diam dan memikirkan jawaban
apalagi yang harus aku berikan. “aku
tidak memiliki status, entahlah pastinya hatiku akan sakit, namun cinta yang
tulus tidak memikirkan status, aku hanya tau untuk mencintai kamu, entah
seberapa keras usahamu menyakiti aku, memang bisa tapi aku akan tetap
bertahan.” Jawabku dengan tersenyum lebar. Ia hanya menghela nafas seperti
seorang yang sangat merasa bersalah, apa mungkin kata-kataku salah ? ah aku
rasa tidak ada yang salah.
Kemudian Ia mengantarku
sampai didepan gang rumahku, dan Ia melambaikan tangannya kemudia pergi. Aku
melihatnya hingga hilang dari penglihatanku, aku berlari kegirangan memasuki
rumah, hah hari ini memang menyenangkan. Ia menyakiti tapi sekarang sedang
mengobati luka ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar