Selasa, 24 September 2013

Ep. 11 Cinta Tidak Menuntut Status



            Keadaan mulai membaik setelah pertemuan kami beberapa hari yang lalu, kami bertukar nomor Hp dan saling menghubungi. Dari mengucapkan “selamat pagi” sampai mengucapkan “selamat tidur”, iya bisa dibilang tidak hentinya kami saling berkiriman pesan. Entah apa yang berbeda, setiap pesan singkat darinya masuk aku selalu bergegas membalas walaupun sibuk aku selalu menyempatkan sedikit waktu untuk membalas.
            Nanti sore kami janjian akan menonton pameran bersama. Ini pengalaman pertamaku pergi menonton pameran dengan Bintang bahkan Ia laki-laki pertama yang akan pergi denganku. Dari jam empat sore aku sudah berdandan serapi mungkin. Aku gunakan dress kuning berenda kesukaanku dengan pita biru disudut kirinya kemudian dihiasi dengan motif abstrak, dress ini adalah hadiah dari Dinda saat ulang tahunku setahun yang lalu. Kugunakan sandal tali hitam dengan hiasan bunga diatasnya berwarna putih, jadi terlihat sangat manis.
           
Saat jam menunjukkan pukul lima aku bergegas berangkat, kami berjanjian akan bertemu didepan gerbang Lapangan Pahlawan tempat pameran itu. Saat tiba, aku melihat Bintang telah menungguku, bergegas aku berlari untuk menghampirinya dan menyapa. Dari kejauhan senyum manisnya sangat terlihat, aku juga menyapa dengan senyuman.
“tumben dandan kayak gini” ledeknya sambil tertawa dan mencubit pipiku. Aku langsung malu, berpikiran apa dandananku terlalu berlebihan ya. Ah, aku langsung saja menariknya dan berjalan menuju arena pameran. Kami berjalan keliling, tak pernah semenitpun Ia melepas gandengan tangannya. Iya, kami memang seperti pasangan yang begitu bahagia.
Tapi hubungan ini berjalan tanpa status, kami tidak pacaran namun semua orang yang melihat selalu saja mengira kami pacaran namun mengalir begitu saja. Kami bahagia bersama, bahkan aku meneteskan air mata layaknya pasangan yang sedang bertengkar. Kami saling mengirim pesan, saling mendoakan, saling mengingatkan, bahkan Ia sangat perhatian.
Semakin hari aku semakin tidak perduli dengan yang Ia katakana bahwa dia seorang laki-laki yang tidak baik, seakan sekarang aku memang menemukan sosoknya yang sesungguhnya. Iya, karena masa lalu yang menyakitinya membuat Ia menuutupi dirinya yang sesungguhnya tapi taka pa sekarang aku mulai yakin walaupun awalnya sakit hati.
Beberapa jam setelah berkeliling, Ia mengajakku pulang. Ini sungguh melelahkan tapi sangat menyenangkan. Sepanjang jalan aku hanya tersenyum. Tiba-tiba Bintang bertanya hal yang mengagetkanku, “kenapa kamu gak nuntut status sama hubungan kita ini?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tertawa, “kenapa bertanya seperti itu? Aku bukan wanita yang menuntut status, memang kadang sebuah hubungan harus ada yang namanya status tapi itu bukan masalah kok, aku ikhlas bahkan tidak pernah terlintas dipikiranku untuk menuntut status.” Dengan memegang bajunya.
Ia kemudian memandangku lama melalui kaca spionnya, terlihat sangat jelas kalau Ia sangat heran akan jawabanku. Kemudian Ia menyahutku lagi, “bagaimana kalau aku jalan bersama wanita lain?” . aku diam dan memikirkan jawaban apalagi yang harus aku berikan. “aku tidak memiliki status, entahlah pastinya hatiku akan sakit, namun cinta yang tulus tidak memikirkan status, aku hanya tau untuk mencintai kamu, entah seberapa keras usahamu menyakiti aku, memang bisa tapi aku akan tetap bertahan.” Jawabku dengan tersenyum lebar. Ia hanya menghela nafas seperti seorang yang sangat merasa bersalah, apa mungkin kata-kataku salah ? ah aku rasa tidak ada yang salah.
Kemudian Ia mengantarku sampai didepan gang rumahku, dan Ia melambaikan tangannya kemudia pergi. Aku melihatnya hingga hilang dari penglihatanku, aku berlari kegirangan memasuki rumah, hah hari ini memang menyenangkan. Ia menyakiti tapi sekarang sedang mengobati luka ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar