Ep. 2 Berganti
Senja
“Nomor yang anda tuju
sedang tidak aktif”
“Nomor yang anda tuju
sedang tidak aktif”
“Nomor yang anda tuju
sedang tidak aktif”
Ini sudah ketiga kalinya aku mengubungi Roni, lama-lama
aku tinggal juga ini anak. Setiap hari aku tetap stay didepan rumahnya
teriak-teriak buat jemput dia pergi sekolah barengan. Lama-lama telat lagi dah
aku ini.
‘Greeekkk…..”
Tiba-tiba suara gerbang
mengagetkanku. “hehehhe”. Dia hanya cengar cengir dengan penampilan kusut
seperti belum mandi. “Kamu gak mandi Ron?”, ia hanya tertawa. Seperti biasanya
dan seperti hari-hari sebelumnya dia gak mandi lagi. Hmm.. wajarlah, dia pasti
telat bangun karena gak ada yang bangunin, ibunya sibuk keluar kota ngurusin
bisnis kain sutra yang super sibuk, sedangkan ayahnya sibuk kepedesaan untuk
memimpin proyek-proyek jalan yang harus cepat selesai, dan kakaknya yang ribet
banget sama masalah pacarnya, yang kerjaannya galau mulu. Sedangkan dirumah dia
biasanya cuman ditemani seorang pembantu rumah tangga yang sudah lumayan tua,
yah mungkin gak telaten lah ngurusin dia.
Makanya setiap pagi aku
selalu stay didepan rumahnya, udah kayak satpam aja. Tapi gak apalah, ini semua
demi sahabat yang dari SD, SMP, bahkan sampai saat ini masih setia menemaniku.
Aduh, aku mulai alay. Heheheh..
“Ayok cepetan Ron, mati
kita kalau tiga hari harus berturut-turut telat, bias-bisa orang tua dipanggil
nih”. Cuuuuussssss….. aku langsung bergegas mengendarai motor kesayanganku.
“Turun Ron, udah sampe
nih, cepetan sana bukain gerbang dulu”. Roni kemudian berlari membuka gerbang.
Aku lalu memarkirkan motorku ditempat biasa, didekat pohon beringin itu. Lalu
kami bergegas menuju ruang kelas. Sekilas mataku terpancing akan seseorang yang
sedang sibuk menengok kiri kanan seakan mencari sesuatu dibawah pohon beringin
itu, namun hanya terlihat dari belakang.
“Cepet Rangga, pak
Goris itu udah mau masuk kelas!!” tarik Roni dengan muka pucat karena takut
keduluan sama pak Goris, guru BP killer yang kerjanya cuman marahin anak
muridnya kalau dia udah duluan masuk. Kami kemudian berlari, aku memalingkan
penglihatanku tanpa melihat siapa dan bagaimana wajah orang itu.
“Nak, yang mau daftar
snmptn, segera maju kedepan.” Lagi-lagi bahas masalah kuliah, ujian aja belum
udah ngebahas ini mulu. Pusing jadinya mau masuk dimana kalau mau daftar aja
dikejar-kejar begini.
“Heh, daftar dimana
kamu ? UI? Atau UB? “ Tanya Roni penasaran. Kayaknya dia mau satu kampus lagi
sama aku, sejak dulu selalu begini. “Belum tau Ron, kamu dimana? “ Eh dia malah
cengengesan nggak jelas.
Tengggg…tenggg…tenggg….
Ah, bunyi bel pelajaran
pak Goris udah selesai. Kayaknya sekarang aku harus menghadap langsung deh ke
ruang BP.
Cuuuuusss… aku menuju
ruang BP setelah merapikan buku.
Took..toookkk….
Aku mengetuk pintu
ruang BP, lalu “masuk nak, buka langsung” suara pak Goris yang lantang
memintaku langsung saja masuk dan membuka pintu.
Kemudian aku terkaget,
“duduk dulu nak, ngantri dulu,ini bapak urus Aliya dulu sebentar.”katanya dan
kemudian aku duduk menunggu.
Aku kemudian menguping
pembicaraan mereka, ternyata Aliya sedang mengajukan bidikmisi untuk memasuki
universitas. Tapi daritadi dia belum menyebutkan universitas mana yang akan ia
masuki.
Dari situ aku baru tau
kalau selama ini mungkin Aliya berasal dari keluarga yang kurang mampu,
pantasan saja jarang sekali aku melihatnya kekantin. Kesekolah saja ia selalu
menggunakan sepeda ontel yang ada keranjang didepannya.
Lima menit kemudian,
dia bangun dan berbalik, namun ia hanya menunduk saja dan bergegas keluar
ruangan. Entah kenapa, mungkin ia malu.
“sini Rangga, ada apa?”
kata pak Goris. Aku memberitahu pak Goris bahwa aku ingin mendaftar di UB . dia
kemudian memberikan persyaratan yang harus aku bawa besok. Aku lalu bergegas
keluar. Lari menuju kelas dan kemudian membongkar tasku, mencari buku biru yang
beberapa waktu lalu aku temukan.
Tidak sengaja halaman
terakhirnya terbuka, disudut kiri bawah ada ukiran nama “A.K”. entah siapa,
wanita atau laki-laki. Tapi dari ukiran, gaya bahasa dan tulisannya seperti
seorang wanita.
Aku membuka lembaran
keempat ,
“sejak
kapan, entah apa dan ini rasa apa, aku selalu mendangmu walau benci itu
terselip. Memang benar, hitam awan itu menjadi terik saat kau setiap kali
memandang, entah kau tersadar atau tidak, aku selalu saja melihat dari jauh dan
itu saja sudah terasa indah”.
Lagi-lagi Aliya muncul
dalam benakku. Entah bagaimana bisa, tiba-tiba saja ada sesuatu yang sedang aku
rasakan.
Ternyata sudah hamper petang
aku disekolah karena pengayaan untuk ujian sekolah beberapa hari lagi. Sekarang
waktunya pulang.
Aliya terlihat dibawah
pohon beringin sedang melamun, melihat kearah matahari yang akan berganti
menjadi senja. Sejenak aku merasa apa yang salah dengan Aliya, ia sama sekali
tidak menyebalkan, hanya saja saat bertatapan aku meraasa aneh.
“ngapain disini?”
kataku mengagetkannya. Kemudian ia memakai tasnya dan berlari menuju sepedanya
lalu pulang. Aku hanya terdiam melihatnya bertingkah seperti melihat hantu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar