Senin, 20 Januari 2014

Love Is The Moment



Ep. 1 Buku Biru


“eh aku kekantin aja ya, kamu balik duluan!” menepuk pundakku lalu pergi meninggalkanku. Yah, begitulah Roni anak laki-laki yang aku kenal sejak aku berusia lima tahun dan sekarang usiaku tujuh belas tahun. Kita bersama setengah dari hidup kita masing-masing, lumayan lama.
            Aku hanya mengangguk dan melambaikan tanganku kemudian memasukkan kembali kedua tanganku kesaku celanaku dan melangkah menuju kelas. Namun aku terhenti dibawah pohon beringin yang rindang dan duduk sejenak. Ada sebuah pantar kecil dibawahnya dan disini lumayan sepi setiap kali istirahat. Aku selalu duduk disini selama lima menit kemudian kembali lagi kekelasku. Seperti biasa aku hanya memandang kedepan entah apa yang aku pandang dengan tatapan kosong, hanya hampa dan entah apa yang ada dalam pikiranku, begitu hampa pula.
            Aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku ganjal kebelakang. Menghirup udara dibawah pohon beringin yang berusia sekitar empat puluh tahun  ini begitu menyejukkan. Sampai tak ada tatapan dan tak ada pikiran yang aku punya setiap kali aku mampir dan duduk disini. Terlebih lagi pada saat sore hari, begitu adem dan menenangkan pikiran.
            Tiba-tiba Roni datang dan menepuk pundakku, “heh, seperti biasa, masih disini? Lihat apa Rangga?”
            “gak ada, ayo balik kekelas, sekarang pelajaran matematika.” Kemudian aku mendorongnya dan tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu. Aku bergegas berbalik dan melihat. Aku terheran, dan segera mengambilnya lalu kembali ke kelas. Hari ini pelajaran matematika sampai pulang.
            Aku mengeluarkan buku matematika, dan buku warna biru dengan sampul bening seperti buku Diary dengan pulpen corak bintang warna warni. Kira-kira siapa ya yang punya buku ini, laki-laki atau perempuan, sekolah disini atau bukan, kelas tiga atau dua atau satu ya. Ah, aku begitu penasaran sampai ingin membuka buku ini. Tapi apa ini sopan? Bagaimana kalau isinya penting? Tapi kalau aku tidak melihat isi buku ini maka aku pasti gak akan tau siapa pemiliknya. Siapa tau ada keterangan mengenai identitas yang punya buku ini.
            Kemudian aku memberanikan diri untuk membuka buku ini. Lembar pertama sama sekali tak ada identitasnya. Kemudian lembar kedua :
            “kadang aku ingin didekatmu, melindungimu dari teriknya matahari agar kamu tetap diam di situ dan aku mampu memandangmu dengan tidak mengedipkan mataku. Tapi sayang, aku masih saja bukan beringin itu”
            Membaca itu aku sedikit terheran, siapa pemilik buku ini ya? Ini jelas-jelas kata-kata seorang wanita dan kata-katanya bermakna dalam. Indah namun tidak begitu indah kerena kurang khiasan. Wanita ini hobby menulis, sama seperti aku. Tanpa sadar, aku padahal baru saja membaca halaman pertama bel pulang telah berbunyi. Akhirnya, pulang juga. Semakin lama sekolah semakin lama saja pulangnya, jadi semakin lelah karena pengayaan pula. 
            “kenapa kamu? Kok loyo?” Roni menggoda.
            “laper laper laper” kataku sambil berteriak ditelinganya.
            “heh, biasa aja kale bro. eh bentar lagi kelasnya Aliya keluar tuh. Hati-hati deh ntar kalian berkelahi lagi kayak kucing sama anjing aja” sindirnya sambil cengar cengir.
            Aliya itu cewek yang menyebalkan. Kita jadi musuh karena dulu masalah buku diperpustakaan. Yah ini sih salahku tapi menurutku sama sekali gak salah kok. Hehhe. Gara-gara itu sampai sekarang aku jadi sering berantem kalo ketemu, bawaanku sih jengkel banget kalo ketemu Aliya, tapi mau gimana lagi orang kita satu sekolah. hehhe..
            Roni kemudian menarikku dan membuyarkan hayalanku. Kami kemudian pulang, dan aku sedikit menengok ke kelas Aliya. Ternyata mereka ada jadwal pengayaan Bahasa Indonesia sekarang. Aku tertawa kecil, dan tidak sengaja Aliya berbalik melihat kearahku. Lah aku tertankap basah menertawainya. Kemudian matanya melotot dan siap untuk loncat, tatapannya itu menyeramkan sekali, aku kemudian mempercepat langkahku dan menyusul Roni. Hehhe

            Sampai dirumah, aku mengganti pakaianku dan bergegas naik diatas kasur. Aku mengambil buku biru itu lagi dan akan membacanya. Buku ini lumayan tebal, mungkin sekitar 30 an halaman ada tulisannya, sedangkan baru halaman pertama yang aku baca. Aku membuka lembar kedua :
            “bahkan ketika terik menyorot dahimu, kau tetap saja bertatap dan entah berpikir apa. Hanya mampu melihat hembusan nafasmu karena terik yang begitu terang. Bahkan hanya melihat mu dari belakang, bagaimanakah rupamu? Apa kamu seorang yang diam? Atau kau adalah seorang yang aku kenal namun tak akrab? Ah, aku rasa tidak”
            Aku mulai menerka-nerka apa maksud dari seseorang yang menulis ini. Sepertinya ia jatuh cinta dengan seseorang yang ia tak tau rupanya. Wah luar biasa. Zaman sekarang ini masih saja kayak begitu, yah walaupun aku gak terlalu punya hubungan sama cewek, tapi bukan berarti aku gak tertarik. Tertarik sih iya, tapi bukan dengan wanita sembarangan.
            Sudah bertahun-tahun semenjak cinta pertama, aku menjauh dari kehidupan cinta dan yang berhubungan dengan cinta. Sungguh karena cinta pertama yang tidak menyenangkan dan hanya datar tidak ada yang istimewa. Dan sampai saat ini aku masih berpikir banyak untuk jatuh cinta lagi.
            Aku kembali membaca buku biru ini, dilembar ketiga :
            “jangan pernah berbalik, jika kamu berbalik maka peluhku akan semakin mengguyur tubuhku dan jantungku berdetak lebih kencang. Jangan menoleh pula, tetap saja memandang terik, hingga ia mulai hilang berganti senja”
            Kemudian aku membuka lembar berikutnya,eh malahan ibu memanggilku, “Rangga, keluar makan nak”.
            Aku kemudian keluar dan meninggalkan buku biru itu diatas tempat tidurku. “iya bu, ini Rangga keluar”. Kami pun makan bersama, hanya aku dan ibu. Ayahku seorang tentara dan saat ini ia sedang bertugas, sedangkan aku tidak memiliki saudara, kakak maupun adik jadinya hanya kami yang ada dirumah.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar