“Bintang,
apa kamu percaya dengan keajaiban?” tanyaku membuka pembicaraan sebelum Ia
mengatakan apapun. “aku percaya, tapi aku belum tau apa aku pernah mendapatkan
keajaiban atau tidak. Kenapa? Mengapa tiba-tiba topic kita mengara kesana? “ Tanya
nya kembali.
Aku hanya
menggenggam erat tangannya dan mengayunkannya kedepan dan kebelakang. Mungkin
ia penasaran, ia hanya berjalan tanpa suara dan kata apapun. Kemudian kataku
lagi, “Bintang, saat kita hidup ada yang namanya keajaiban. Dimana seseorang
akan bersyukur bahkan mengingat kebesaran Tuhan jika mendapatkan keajaiban.
Saat itu seseorang tak mampu melakukan sesuatu, dan merasa putus asa namun
seketika , seseorang tersebut mampu melakukannya bahkan hingga berhaasil dan
membawakan kebahagiaan. Misalnya seperti seseorang yang sedang terkena penyakit
keras, mampu bertahan dengan kondisi yang layaknya tak mampu dipertahankan
padahal tak lama lagi hidupnya akan berakhir. Bahkan dokterpun telah memvonis
bahwa hidupnya tak akan lama. Akan tetapi dengan keajaiban, seorang itu sembuh
dan seluruh penyakitnya hilang.”
Kataku lagi,
“Tapi Bintang, jika aku mendapatkan keajaiban, akan kah seperti ini, pertama
ibuku akan berubah menjadi seorang ibu yang sangat baik, ia menjadi temanku,
menjadi sahabatku bahkan melindungiku, tidak memarahiku bahkan tidak menyakiti
hatiku sehingga aku bisa mempercayainya. Kemudian ayahku, ia akan menjadi ayah
yang bijaksana bahkan penyayang. Tidak lagi menyusuri jalan desa tidak
menggunakan alas kaki sambil membawa botol air mencari air minum ditengah
panasnya hari dengan kondisi desa yang sedikit penghuninya ditambah dengan
warga desanya yang tidak ramah. Bahkan ia mampu mendapatkan pekerjaan yang
layak dan umurnya menjadi panjang, mereka berumur panjang. Agar mampu melihat
aku memakai topi toga dengan kebaya cantik yang pas ditubuhku. Memegang ijazah
dan menjadi peserta yang memiliki peringkat, naik ke podium wisuda bahkan
mendapatkan beasiswa hingga S2 dengan nilai terbaik pula. Kemudian berakhir
menjadi seorang yang ramah dan menebarkan senyum terhadap nasabah-nasabah
walaupun hanya pegawai Bank desa sebagai teller. Kemudian aku mengenalkanmu
Bintang kepada mereka dan seterusnya menjalani hidup yang begitu indah.” Hah,
tarik nafasku karena terlalu panjang bercerita. Penjelasanku dan keinginanku
terlalu panjang katanya, hehehe aku hanya tertawa tak tau apa lagi yang akan
aku katakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar