Aku rasa saat ini untuk melepaskan lelahku dan segala pikiranku. kemudian aku berjalan menuju senja, hah sudah beberapa minggu aku tidak melihat senja. kali ini aku duduk menghadap senja, aku luruskan kedua kakiku dan menarik panjang nafasku. hhuuuhhh~~~~..
"Hey, rupanya disini" kata Bintang mengagetkanku. aku terkejut dan mencubit kakinya. Bintang duduk disampingku, ia terus saja menatapku, mungkin agak aneh. iya,wajahku mungkin terlihat kusut karena lelah. bukan itu saja, pikiranku kemana-mana dan banyak yang membuat beban.
"kamu kenapa? kusut banget tuh muka." sambil merapikan rambutku dengan manja.
Aku hanya menghela nafas dan menekuk kedua kakiku kemudian menundukkan kepalaku. Ia terlihat heeran dan sesekali memperlihatkan wajah heran dan penuh tanya.
"Kamu lelah? ada masalah?" tanyanya kembali.
Kemudian aku mengangkat kepalaku dan bertanya, "Bintang, aku egois ya? sifatku jelek ya? apa aku kurang bersahabat bintang ? aku kurang baik ya ?.
Ia bangun dan duduk dihadapanku dengan memulai senyuman manisnya.
"Sinarku, ikha.. kamu kenapa? apa alasan kamu bilang begitu? kamu baik kok malahan kamu wanita yang sabar, aku tau itu.semua orang punya sifat jelek kha', memang kamu ada masalah?" tanya nya lagi.
aku hanya menghela nafas dan tak mampu berkata apa, ah bukan tak mampu tapi tak tau susunan kata yang harus aku ucapkan.
"Bintang, apa kamu tau sebabnya aku selama ini hanya hidup dalam duniaku sendiri sebelum ada kamu?" tanyaku.
"aku tak tau, memangnya kenapa?" bingungnya.
ku mulai cerita, "Bintang, aku bukan gadis yang seperti kamu atau orang lain lihat. Banyak yang bilang kalau aku ini egois, bahkan aada yang bilang aku sombong, aku juga keras kepala, aku gak mau denger pendapat orang lain, aku juga jarang percaya sama orang. Aku gak percaya yang namanya sahabat Bintang, aku juga ragu dengan yang namanya Kebersamaan. mungkin banyak yang tak suka aku Bintang, entah apa alasan yang jelasnya. Itu sebabnya selama ini aku hanya terlihat ceria tapi sebenarnya aku rapuh Bintang, aku sendiri, aku bahkan tidak memiliki seseorang yang biasanya orang sebut -teman curhat-"
panjang lebar aku menjelaskan tentang asyiknya aku hidup dalam duniaku saja sampai lupa bahwa masih ada dunia nyata.
"kenapa? apa yang membuat kamu tidak percaya? kha', sahabat itu ada hanya kamu saja yang tidak menyadari itu, tolong percaya aku kha'." katanya dengan yakin.
"kamu yakin? Bintang, aku mungkin tidak bisa melihat mana sahabat dan mana bukan, aku ingin berteman dengan siapa saja tidak memandang apapun, tapi apa siapapun itu mau berteman bahkan bersahabat denganku? tidak kan Bintang, itu sebabnya aku hanya hidup dengan duniaku. yah, aku dan duniaku saja Bintang." jelasku.
Ia kemudian mengelus rambutku dan tersenyum lebar. "ayo sambil berjalan, kalau duduk nanti air mata kamu menggenang, terus jatuh deh. aku ngerti kok kha', aku tau kemana arah pembicaraan ini, sudah sudah jangan terlalu difikirkan, aku yakin kamu bisa hidup kok tanpa mereka, tapi kalau tanpa aku mungkin aku ragu, hehhehe..'' katanya sambil mencubit pipiku. Ia menggodaku dan mencoba menghiburku dengan gombalannya yang garing. Aku dan Bintang berjalan menyusuri senja , Ia menggandengku dan masih sama, tangannya terasa hangat bila menggenggam tanganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar