Aku duduk diam memandang langit yang menyembunyikan senja hingga tak terlihat. Malam ini aku begadang untuk menyempatkan memberi ucapan selamat untuk laki-laki itu. Tapi bodohnya aku, nomor Hpnya saja aku tak punya, lalu bagaimana cara aku memberi ucapan ? aku berharap agar menjadi wanita pertama yang memberinya ucapan.
****
Waktu menunjukkan pukul 11.55 WITA, rasa kantukku tak mampu aku bendung lagi, sesekali aku membasuh wajahku agar kantukku hilang dan mampu bertahan untuk 6 menit lagi. Entah bagaimana caranya aku memberinya ucapan ini. Terlintas dibenakku, iya aku tau sekarang bagaimana cara menyampaikan ucapan ini.
Aku lalu berdiri dihadapan senja dan memejamkan mataku sejenak dan membuka mataku lalu aku masuk dan mengistirahatkan mataku. Mulai memasuki dunia hayalku dan bertemu dengan laki-laki itu. Lagi-lagi dalam dunia ini Ia hanya duduk memandang senja dan entah apa yang ada difikirannya, aku sendiri tak tau.
****
Keesokkan harinya, seperti biasa sepulang dari sekolah aku bergegas menyempatkan diri untuk datang lebih awal untuk menunggunya, tak mengerti pula jalan pikiranku sekarang salah satu hobby ku adalah menunggu laki-laki ini seakan aku tak mau Ia yang menunggu ku.
Dengan sepotong kue kotak dengan lilin serta sepucuk surat ditanganku. iya, aku menunggunya lagi hari ini. Tak pernah aku protes, hanya menunggu tak lelah bahkan aku merasa bahagia, menunggu ditemani senja yang hari ini lebih indah. Senja , kau tau bukan? kau terlihat sangat indah karena hari ini hari yang special.
satu jam, dua jam, hingga senja hilang Ia belum terlihat, apa Ia akan datang? Entahlah...
aku hanya menunggu, hingga rasa kaki ku pegal untuk diluruskan.
sekarang empat jam berlalu, lima jam, hingga gelap gulita hanya ada cahaya bintang.
ah, mungkin Ia tak datang, aku berdiri dan beranjak pulang, berdiri saja kakiku keram.
saat ingin bangun, tiba-tiba seseorang menarik tanganku, membantuku berdiri, aku terkejut.
"lelah menungguku?" , ia tersenyum dan membuatku sangat marah.
dalam hatiku,
"mengapa membuatku menunggu terlalu lama?
memang sekarang hobby ku menunggu mu, tapi haruskah selama ini?
apa hari selanjutnya aku akan menunggu selama ini pula?
aku tak ingin mendengar alasan apapun darimu"
aku hanya tersenyum dan menghela nafas.
Ia menggenggam tanganku dan mengajakku duduk menghadap senja.
"tiup lilinnya" , kataku.
lalu Ia meniup lilinnya dan memejamkan matanya sejenak untuk membuat permohonan.
kemudian aku berikan sebuah surat dan Ia hanya tersenyum.
"mari aku antar kau pulang", katanya sambil membantuku berdiri.
Lega telah memberikan surat itu, dalam surat itu aku katakan :
"selamat ulang tahun senja,
semoga di umurmu saat ini kamu lebih dewassa lagi,
taukah kamu bahwa semalaman aku menunggu untuk menulis surat ini?
takk apa aku menjadi yang terakhir dan bukan yang pertama.
untukmu doa ku, laki-laki yang tak pernah aku tau dan aku belum siap untuk tau siapa namamu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar