Setelah beberapa hari yang lalu bertemu dengan cinta pertama,
iya, memang belum terasa bahkan belum terjadi sesuatu yang bisa dikatakan cinta namun aku merasa seperti telah mengenalnya dengan begitu akrab hingga tak asing lagi untuk difikirkan, untuk diingat, untuk menjadi bahan senyumanku, untuk menjadi bahan tulisanku bahkan bahan doaku saat aku sembahyang.
Hari ini aku akan melihat senja dan berharap akan bertemu laki-laki dengan celana 3/4 itu.
Iya, hingga saat ini entah siapa namanya. hanya tau bentuk wajahnya, bagaimana rupa dan tinggi nya.
****
seperti biasa aku hanya duduk di hadapan senja ku yang selalu setia menemaniku menggoreskan pensil ini ke atas lembaran putih yang belum terdapat goresan sedikitpun..
5 menit, 10 menit, hingga berjam-jam aku memandang kiri-kanan arah datangnya laki-laki itu, entah kapan Ia akan muncul dan berlari dengan tawa di wajahnya seperti awal aku melihatnya.
Iya, aku seorang pengagum senyumnya yang hanya mampu menunggu melihat hal indah itu walaupun sedikit menyebalkan karna saat itu sangking gugup aku memulai pertengkaran kecil yang masih aku ingat hingga saat ini. memang lucu, tapi suara tawanya masih terngiang di telingaku.
Lelah aku menunggu, aku bangun hendak pergi dan aku membalikkan badanku lalu terkejut,
"kenapa? nunggu aku ?" katanya dengan senyum lebar sinis di wajahnya.
aku lama terdiam memandang dari ujung kaki hingga ujung rambutnya tanpa henti, entah apa yang ada difikiranku sebenarnya dan entah apa yang harus aku katakan sebenarnya. argh,, lagi-lagi laki-laki ini membuat aku kikuk.
"heh, siapa yang nunggu kamu? GR sekali", jawabku.
kemudian ia menarik tanganku dan mengajakku duduk.
Ia duduk dengan pandangan menghadap senja, entah apa yang ada didalam fikiran laki-laki ini.
aku hanya memandangnya dan sesekali memandang senja yang akan hilang.
lalu ia hendak berkata , "kenalkan namaku...", "stoppp", kataku mengagetkannya.
"aku gak mau tau nama kamu, biar aku tau sendiri" , aku tersenyum.
Ia mengerutkan alisnya dengan wajah penuh tanya. aku kembali menatap senja.
lalu Ia kembali melihat senja dengan tertawa heran karena tingkahku.
Iya, aku hanya lebih nyaman menyebutnya "Laki-laki celana 3/4" dibandingkan tau namanya.
bahkan jika ingin mengetahui namanya aku hanya ingin tau dengan sendiriku bukan karna dia yang memberitahuku.
****
karena senja telah hilangg, ibu ku menelfonku hampir 10 kali aku pulang.
aku meninggalkannya ditempat itu karna masih ingin berdiam diri, lagi-lagi aku tak mengerti apa yang ada difikiranya hingga ia hanya ingin berdiam diri ditempat itu padahal senja telah hilang.
aku hanya melambaikan tanganku dan bergegas pulang.
Ia hanya tersenyum manis dengan kata-kata, "see u again" dengan lantanggnya..
Hanya sampai disini pertemuannya, namun hati ini tak pernah berhenti berdegup dengan kencang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar