Katamu senja yang pernah kita lihat itu tak akan sama seperti
sebelumnya yang kita lihat. Senja yang berwarna merah orange, lilitan awan
mengitari bahkan burung membentuk formasinya untuk mengitari senja itu.
Masih aku ingat bagaimana pertemuan tadi. Iya aku ingat betul bagaimana cara unik kita
bertemu. Kamu dengan baju kaos hitam dan celana ¾ hanya lewat bahkan terkadang
berlari melewatiku. Tak pernah aku berfikir akan bertemu denganmu untuk
kesekian kalinya dan mulai berbincang.
Iya, ini kisah awal cinta pertamaku. Perasaan yang tak pernah
aku tunggu bahkan tak pernah aku rasakan. Aku bahagia, walaupun tak merasakan
cinta. Bukan hal aneh bagiku karna aku memiliki cara tersendiri yang membuatku
bahagia,
Sore itu senja sangat indah, aku duduk sendiri memegang buku
gambar dengan jemariku mengukir pensil diatas kertas gambarku. Ini memang
hobbyku. Menceritakan betapa senangnya aku melihat senja hari ini dengan
gambaranku. Memang tidak sebagus pelukis terkenal atau tidak terkenal seperti
pelukis-pelukis handal tapi merupakan kesenangan tersendiri untukku.
Seperti biasa, aku duduk diatas batu besar sudut pantai
dengan kaki ku mengenai separuh ombak yang bergemuruh. Aku selalu menyempatkan
diri mendatangi tempat ini disetiap akhir pekan. Entah mengapa, ini hal yang
membahagiakan walau hanya memandang senja yang selalu berubah-ubah.
Saat itu seorang laki-laki berlari-lari dengan tawa indah
yang membuatku penasaran. Sesekali aku menengok kearahnya dan kembali menunduk
melanjutkan gambaranku. Namun laki-laki itu lagi-lagi berlari menghalangiku
dari penglihatanku akan senja. Aku mulai kesal dan ingin protes lalu mengatakan
bahwa laki-laki ini menghalangi penglihatanku. Namun akhirnya laki-laki itu
berlari kearah keramaian pantai sebelum aku sempat protes.
Lalu laki-laki itu kembali dengan mengalungkan kamera di
lehernya dan mulai mengambil foto senja yang hampir hilang. Aku hanya
memandangnya bahkan tak menyelesaikan gambaranku. Terlalu serius memperhatikan
tak sadar laki-laki itu membalikkan pandangannya kearahku. Terlihat raut wajah aneh
yang mengartikan bahwa ia bertanya-tanya mengapa aku memperhatikannya. Aku lalu
menunduk dan berpura-pura tak tau kalau ia sedang melihatku.
Iya, ini pertama kalinya aku memperhatikan seorang lelaki
yaitu kamu, dibandingkan dengan masa remajaku yang sebentar lagi akan usai.
Tahun depan, aku akan resmi menjadi seorang mahasiswa yang akan sibuk memulai
fikiran untuk menentukan masa depan. Aku sadar akan hal itu, namun aku tak
masalah karena menurutku dengan senja ini aku menemukan perubahan.
Terlalu lama aku menunduk, tak aku sadari ia menghampiriku
dengan senyuman. Aku terkejut dan pikiranku mulai bercabang-cabang. Apa
laki-laki ini akan marah karena aku memandangnya tadi? Atau ia akan membentakku
karena tak sopan memandangnya seperti tadi? Ah, aku mulai gugup dan tak
mengerti apa yang akan aku lakukan.
Tak pernah aku merasakan hal seperti ini. Saat itu sebelum ia
berbicara aku yang menyerobot berbicara, aku protes bahwa ia menghalangiku
melihat senjaku. Laki-laki itu tertawa, namun aku bingung apa sebenarnya yang
lucu dari perkataanku. “senjamu? Sejak kapan senja jadi milikmu?”, katanya. Aku
hanya memelototkan mataku karena kesal. Ini memang senjaku, lalu kenapa? Aku
yang lebih dulu disini untuk melihat senja ini, bahkan masih ada tempat lain
untuk melihat senja, namun laki-laki ini masih berkeras kepala untuk melihat
senja disini saja.
Kemudian ia bersuara lagi, “lebih baik kamu percepat saja
menggambarnya, karna senja hari ini tak akan sama dengan senja esok hari, bahkan
lusa atau setahun lagi”. Lalu aku hanya
diam dan ia juga pergi melanjutkan memotret senja yang akan hilang dalam
beberapa menit lagi. Dalam fikirku, mengapa kita harus berebut senja? Bukankah
kita dapat berbagi tempat bahkan saling bersampingan duduk untuk melihat senja
yang sangat indah ini? Tapi entah apa yang ada difikiranmu bahkan perasaanku
seperti tak terhentikan hanya ingin memandangnya.
Beberapa menit kemudian, aku bangun dan meninggalkan derusan
ombakku dan batu besarku lalu berjalan pulang. Namun aku berbalik dan melihat
laki-laki itu dengan seksama lalu meninggalkan tempat itu. Iya mungkin ini bisa
jadi akhir dari perasaan gugupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar