Senin, 16 September 2013

Ep. 1Cinta Karena Senja



Katamu senja yang pernah kita lihat itu tak akan sama seperti sebelumnya yang kita lihat. Senja yang berwarna merah orange, lilitan awan mengitari bahkan burung membentuk formasinya untuk mengitari senja itu.
Masih aku ingat bagaimana pertemuan tadi.  Iya aku ingat betul bagaimana cara unik kita bertemu. Kamu dengan baju kaos hitam dan celana ¾ hanya lewat bahkan terkadang berlari melewatiku. Tak pernah aku berfikir akan bertemu denganmu untuk kesekian kalinya dan mulai berbincang.
Iya, ini kisah awal cinta pertamaku. Perasaan yang tak pernah aku tunggu bahkan tak pernah aku rasakan. Aku bahagia, walaupun tak merasakan cinta. Bukan hal aneh bagiku karna aku memiliki cara tersendiri yang membuatku bahagia,
Sore itu senja sangat indah, aku duduk sendiri memegang buku gambar dengan jemariku mengukir pensil diatas kertas gambarku. Ini memang hobbyku. Menceritakan betapa senangnya aku melihat senja hari ini dengan gambaranku. Memang tidak sebagus pelukis terkenal atau tidak terkenal seperti pelukis-pelukis handal tapi merupakan kesenangan tersendiri untukku.
Seperti biasa, aku duduk diatas batu besar sudut pantai dengan kaki ku mengenai separuh ombak yang bergemuruh. Aku selalu menyempatkan diri mendatangi tempat ini disetiap akhir pekan. Entah mengapa, ini hal yang membahagiakan walau hanya memandang senja yang selalu berubah-ubah.
Saat itu seorang laki-laki berlari-lari dengan tawa indah yang membuatku penasaran. Sesekali aku menengok kearahnya dan kembali menunduk melanjutkan gambaranku. Namun laki-laki itu lagi-lagi berlari menghalangiku dari penglihatanku akan senja. Aku mulai kesal dan ingin protes lalu mengatakan bahwa laki-laki ini menghalangi penglihatanku. Namun akhirnya laki-laki itu berlari kearah keramaian pantai sebelum aku sempat protes.

Lalu laki-laki itu kembali dengan mengalungkan kamera di lehernya dan mulai mengambil foto senja yang hampir hilang. Aku hanya memandangnya bahkan tak menyelesaikan gambaranku. Terlalu serius memperhatikan tak sadar laki-laki itu membalikkan pandangannya kearahku. Terlihat raut wajah aneh yang mengartikan bahwa ia bertanya-tanya mengapa aku memperhatikannya. Aku lalu menunduk dan berpura-pura tak tau kalau ia sedang melihatku.
Iya, ini pertama kalinya aku memperhatikan seorang lelaki yaitu kamu, dibandingkan dengan masa remajaku yang sebentar lagi akan usai. Tahun depan, aku akan resmi menjadi seorang mahasiswa yang akan sibuk memulai fikiran untuk menentukan masa depan. Aku sadar akan hal itu, namun aku tak masalah karena menurutku dengan senja ini aku menemukan perubahan.
Terlalu lama aku menunduk, tak aku sadari ia menghampiriku dengan senyuman. Aku terkejut dan pikiranku mulai bercabang-cabang. Apa laki-laki ini akan marah karena aku memandangnya tadi? Atau ia akan membentakku karena tak sopan memandangnya seperti tadi? Ah, aku mulai gugup dan tak mengerti apa yang akan aku lakukan.
Tak pernah aku merasakan hal seperti ini. Saat itu sebelum ia berbicara aku yang menyerobot berbicara, aku protes bahwa ia menghalangiku melihat senjaku. Laki-laki itu tertawa, namun aku bingung apa sebenarnya yang lucu dari perkataanku. “senjamu? Sejak kapan senja jadi milikmu?”, katanya. Aku hanya memelototkan mataku karena kesal. Ini memang senjaku, lalu kenapa? Aku yang lebih dulu disini untuk melihat senja ini, bahkan masih ada tempat lain untuk melihat senja, namun laki-laki ini masih berkeras kepala untuk melihat senja disini saja.
Kemudian ia bersuara lagi, “lebih baik kamu percepat saja menggambarnya, karna senja hari ini tak akan sama dengan senja esok hari, bahkan lusa atau setahun lagi”.  Lalu aku hanya diam dan ia juga pergi melanjutkan memotret senja yang akan hilang dalam beberapa menit lagi. Dalam fikirku, mengapa kita harus berebut senja? Bukankah kita dapat berbagi tempat bahkan saling bersampingan duduk untuk melihat senja yang sangat indah ini? Tapi entah apa yang ada difikiranmu bahkan perasaanku seperti tak terhentikan hanya ingin memandangnya.
Beberapa menit kemudian, aku bangun dan meninggalkan derusan ombakku dan batu besarku lalu berjalan pulang. Namun aku berbalik dan melihat laki-laki itu dengan seksama lalu meninggalkan tempat itu. Iya mungkin ini bisa jadi akhir dari perasaan gugupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar