Sabtu, 21 September 2013

Ep. 7 Benarkah Katamu Ini?



            Masih tiga hari lagi untuk bertemu dengan Bintang. Iya, sekarang aku bisa mengubah panggilannya dengan namanya, mungkin Bintang nggak tau kalau aku selama ini menuliskan kisah kita di sini, tapi menurutku untuk mengenang semuanya dari awal perbuatanku ini masih bisa dimaafkan kalau saja nantinya Ia marah.
            Hari ini aku pergi menonton karnaval di depan kantor bupati dengan sahabatku Dinda. Cuman sama sahabat ku yang satu ini saja aku bisa keluar rumah selain melihat senja seminggu sekali. Kebetulan hari ini Dinda akan bertemu dengan Rizal pacarnya. Mereka memang pasangan yang sangat serasi, sudah tiga tahun ini mereka menjalin hubungan dan masih sampai saat ini.
            Aku berdiri di samping Dinda dan Rizal menggandeng tangan Dinda, melihat mereka membuatku teringat Bintang. Iya, lagi-lagi laki-laki itu terlintas di benakku. Entah bagaimana caranya menyihirku hingga aku sendiri tak mampu mengendalikan perasaan dan ingatanku tentangnya. Bintang laki-laki pertama yang berani menggandeng tanganku dengan tangan halusnya yang biasanya berkeringat hingga tanganku ikut menjadi basah.
          
  Tersenyum aku mengingat laki-laki itu. Kemudian kembali ku fokuskan pikiranku melihat anak-anak kecil yang lucu dengan beraneka ragam pakaian adat. Ada yang menggunakan pakaian adat Sumbawa, pakaian adat Jawa, pakaian adat Bali, Batak, Sunda, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan masih banyak lagi hingga tak mampu aku sebutkan satu persatu. Hingga sesak sesakkan sangking ramainya para ibu-ibu dan anak remaja bahkan sampai bapak-bapak yang menonton karnaval kali ini.
            “ kamu kapan kayak kami Kha? Mungkin sudah waktunya membuka hati, lagian kamu cantik kok, siapa coba yang gak mau sama kamu” kata Dinda yang membuat perhatianku buyar dan memandangnya dengan heran. Ada apa tiba-tiba berkata seperti itu, membuatku semakin bingung dan tak mengerti maksudnya namun aku hanya tersenyum seolah tenang.
Dari kejauhan terlihat seseorang melambai-lambai kearahku dengan senyum lebar. Dinda bingung dan bertanya apa aku mengenal laki-laki itu bahkan Ia menghampiriku. Ternyata Bintang.
            “ hey,.. ayo jalan sama aku”  katanya dengan langsung menarik tanganku. Eeh,.. aku hanya mampu melambaikan tanganku pada Dinda dan Rizal. Terlihat Dinda sangat terkejut dengan wajahnya yang akan menantiku dirumaah untuk mendengarkan penjelasanku tentang siapa laki-laki ini.
Tapi aku hanya berjalan mengikuti Bintang. Apa hanya perasaanku saja? Mengapa laki-laki ini ada saat setelah aku memikirkannya, aah entahlah. Ia menggandeng erat tanganku dari keramaian orang yang menonton karnaval. Aku sedikit malu Karena ini pertama kalinya aku berjalan dengan gandengan seseorang, hingga tak mampu aku gambarkan bagaimana senangnya.
            “ada yang aku mau obrolkan,” tiba-tiba dengan tatapan serius. Aku hanya mengangguk dan mulai mendengarkannya.
            “berhenti menungguku disaat senja, aku bukan laki-laki yang baik.” Aku mulai mengerutkan alisku dan bingung, apa sebenarnya yang sedang Ia bicarakan sebenarnya apa yang ada di fikirannya.
            “kamu belum tau tentang ku sedikitpun bukan ? aku bukan laki-laki yang baik bahkan aku sering dijuluki sebagai laki-laki penghancur hati wanita yang ulung. Jangan jatuh hati terhadapku karna akan sia-sia” lanjutnya lagi. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang Ia bicarakan, ah mimpi apa aku semalam.
            Aku hanya menatap matanya yang menurutku bukan hal itu yang sebenarnya. Benarkah ? lantas jika benar, lalu mengapa Ia katakana semua ini? Bukannya seharusnya Ia menyimpannya rapat-rapat dan melanjutkan permainnya?. Iya, tanpa melarangku jatuh hati, bahkan aku telah jatuh hati dan perasaan ini semakin dalam. Entah sekarang apa yang sedang ada di pikiranmu Bintang, aku rasa ini bukan kamu Bintang.
Aku hanya menunduk dan menghela nafas. Kemudian Bintang menggandeng tanganku dan mengantarku ketempat Dinda dan Rizal. Ia melambaikan tangannya dan pergi. Semua pikiranku buyar, membuat aku merasa lelah entah mengapa perasaanku terasa sangat nyilu seperti terkena asam urat yang sering Ibuku rasakan. Aku mengajak Dinda pulang, dan sepanjang perjalanan aku hanya diam memikirkan kata-kata laki-laki itu. Ah Bintang, benarkah? Ini salahku yang tak pernah mau mencari tau tentangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar