Masih tiga hari lagi untuk bertemu dengan Bintang. Iya,
sekarang aku bisa mengubah panggilannya dengan namanya, mungkin Bintang nggak
tau kalau aku selama ini menuliskan kisah kita di sini, tapi menurutku untuk
mengenang semuanya dari awal perbuatanku ini masih bisa dimaafkan kalau saja
nantinya Ia marah.
Hari ini aku pergi menonton karnaval di depan kantor
bupati dengan sahabatku Dinda. Cuman sama sahabat ku yang satu ini saja aku
bisa keluar rumah selain melihat senja seminggu sekali. Kebetulan hari ini
Dinda akan bertemu dengan Rizal pacarnya. Mereka memang pasangan yang sangat
serasi, sudah tiga tahun ini mereka menjalin hubungan dan masih sampai saat
ini.
Aku berdiri di samping Dinda dan Rizal menggandeng tangan
Dinda, melihat mereka membuatku teringat Bintang. Iya, lagi-lagi laki-laki itu
terlintas di benakku. Entah bagaimana caranya menyihirku hingga aku sendiri tak
mampu mengendalikan perasaan dan ingatanku tentangnya. Bintang laki-laki
pertama yang berani menggandeng tanganku dengan tangan halusnya yang biasanya
berkeringat hingga tanganku ikut menjadi basah.
“ kamu kapan kayak
kami Kha? Mungkin sudah waktunya membuka hati, lagian kamu cantik kok, siapa
coba yang gak mau sama kamu” kata Dinda yang membuat perhatianku buyar dan
memandangnya dengan heran. Ada apa tiba-tiba berkata seperti itu, membuatku
semakin bingung dan tak mengerti maksudnya namun aku hanya tersenyum seolah
tenang.
Dari kejauhan terlihat
seseorang melambai-lambai kearahku dengan senyum lebar. Dinda bingung dan
bertanya apa aku mengenal laki-laki itu bahkan Ia menghampiriku. Ternyata
Bintang.
“ hey,.. ayo jalan
sama aku” katanya dengan langsung
menarik tanganku. Eeh,.. aku hanya mampu melambaikan tanganku pada Dinda dan
Rizal. Terlihat Dinda sangat terkejut dengan wajahnya yang akan menantiku dirumaah
untuk mendengarkan penjelasanku tentang siapa laki-laki ini.
Tapi aku hanya berjalan
mengikuti Bintang. Apa hanya perasaanku saja? Mengapa laki-laki ini ada saat
setelah aku memikirkannya, aah entahlah. Ia menggandeng erat tanganku dari
keramaian orang yang menonton karnaval. Aku sedikit malu Karena ini pertama
kalinya aku berjalan dengan gandengan seseorang, hingga tak mampu aku gambarkan
bagaimana senangnya.
“ada yang aku mau
obrolkan,” tiba-tiba dengan tatapan serius. Aku hanya mengangguk dan mulai
mendengarkannya.
“berhenti
menungguku disaat senja, aku bukan laki-laki yang baik.” Aku mulai
mengerutkan alisku dan bingung, apa sebenarnya yang sedang Ia bicarakan
sebenarnya apa yang ada di fikirannya.
“kamu belum tau
tentang ku sedikitpun bukan ? aku bukan laki-laki yang baik bahkan aku sering
dijuluki sebagai laki-laki penghancur hati wanita yang ulung. Jangan jatuh hati
terhadapku karna akan sia-sia” lanjutnya lagi. Aku masih tidak mengerti
dengan apa yang Ia bicarakan, ah mimpi apa aku semalam.
Aku hanya menatap matanya yang menurutku bukan hal itu
yang sebenarnya. Benarkah ? lantas jika benar, lalu mengapa Ia katakana semua
ini? Bukannya seharusnya Ia menyimpannya rapat-rapat dan melanjutkan
permainnya?. Iya, tanpa melarangku jatuh hati, bahkan aku telah jatuh hati dan
perasaan ini semakin dalam. Entah sekarang apa yang sedang ada di pikiranmu
Bintang, aku rasa ini bukan kamu Bintang.
Aku hanya menunduk dan
menghela nafas. Kemudian Bintang menggandeng tanganku dan mengantarku ketempat
Dinda dan Rizal. Ia melambaikan tangannya dan pergi. Semua pikiranku buyar,
membuat aku merasa lelah entah mengapa perasaanku terasa sangat nyilu seperti
terkena asam urat yang sering Ibuku rasakan. Aku mengajak Dinda pulang, dan
sepanjang perjalanan aku hanya diam memikirkan kata-kata laki-laki itu. Ah
Bintang, benarkah? Ini salahku yang tak pernah mau mencari tau tentangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar