Aku duduk
kemudian aku bangun, kemudian aku memandang keatas langit, apakah diatas langit
ada langit dimana semua oorang melihatku? Terkadang aku selalu berkata “iya”
dan menyempatkan untuk senyum, tapi padahal dalam hati aku selalu ingin
berontak dan berkata “tidak”. Apa ini salahku?
Hingga seseorang harus terlewat
begitu saja karena tak pernah aku mengerti. Hah, selama musim ini daun dari
bunga itu terus saja berguguran dan terbang dengan sendirinya, bukan mau pohon
itu untuk melepaskan daun-daunnya, namun sudah waktunya untuk berpisah. Mungkin
daunnya akan lebih bahagia jika terbang terbawa angin dengan sendirinya,
daripada hanya menempel diranting pohon dan hanya bisa terhembus angin tanpa
bisa terbang bersama angin itu.
Apa itu salah pohon juga karena tak
mampu mempertahankan daunnya? Bagaimana jika itu semua kemauan pohon atau
kemauan anginnya? Atau pohon memiliki alasan lain yang membiarkan angin
menghembus daun dengan kencang sehingga mampu terlepas dari rantingnya…
Namun pohon juga mempersiapkan
ranting itu untuk calon daun baru yang mungkin nantinya akan terbang pula sama
seperti daun sebelmnya, kkemudian akan tumbuh daun baru lagi hingga sebuah
bunga akhirnya tumbuh dan mekar sangat begitu indah.
Tidakkah semua akan berakhir indah?
Berakhir dengan sesuatu yang seharusnya terjadi dan sama-sama merasakan
kebahagiaan? Itu seharusnya, dan aku juga seharusnya seperti itu. Walaupun aku
bukan pohon yang begitu tinggi dan berdaun banyak, namun aku sebagai pohon juga
seharusnya menunggu agar suatu saat daunku akan menghasilkan bunga yang begitu
indah dan terus berbunga hingga mengering dan jadi sangat anggun dilihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar