Selasa, 30 April 2013

Andai



Andai saja aku sebongkah batu, sepotongan ranting, ataupun sebutiran pasir bahkan helaian debu. Andai saja aku tukang jahit, tukang roti, seorang hakin, seorang dokter, bahkan pedagang asongan. Dan andai saja aku bukan seseorang yang melihatmu, bukan seseorang yang bertatapan denganmu,bukan seseorang yang bersalipan berkali-kali, bukan seseorang yang tersenyum paadamu bahkan bukan seseorang yang mengenalmu dan sangat ingin mengenalmu. 
Andai saja hatiku terbuat dari salju yang super dingin, atau hatiku adalah butiran pasir hingga saat ingin kau genggam semua akan jatuh, atau saja hatiku terbuat dari batu bahkan aku tidak memiliki hati. 
Andai saja kamu tidak mengayunkan tanganmu,  mengucapkan kata perkenalan dan bahkan andai saja itu bukan kamu jangan kamu atau tak usahlah kamu dan kamu tidak datang kamu tak hadir kamu tak berbayang bahkan kita tak hidup di era yang sama.
Andai saja kita tak satu benua, tak satu pulau, tak satu provinsi, tak satu republik bahkan tak satu negara bahkan tak satu waktu yang sama.
 Andai saja semua memori dapat dihapus dalam satu detik, andai saja semua dapat diperbaharui,dapat diformat dengan menekan tombol format, dapat diisi dengan hal yang baru dan memusnakan kamu, mungkin semuanya harus aku hapus , harus aku format, harus aku potong saat ada memori tentang kamu dan aku akan berusaha keras untuk menghapusnya kemudian mengisinya lagi dengan hal-hal yang lebih indah dan berharga dibandingkan dengan ingatan tenttang kamu.
Atau pemikiran lainnya,
Andai saja aku sebuah batu bata didinding kamarmu, andai aku kursimu, andai aku meja mu, andai aku kacamu, andai aku bantal ditempat tidurmu, atau aku gagang lemarimu bahkan atap didalam kamarmu agar sebelum kau tertidur selalu memandang keatas. Andai aku bajumu, tidak. Bahkan andai aku tanganmu, andai aku matamu, andai aku kakimu, atau bahkan andai aku jantungmu, tidak. Andai aku paruparumu agar nafas mu yang mengalir melaluiku keluar dan masuk. Dan andai aku adalah kamu dan kamu adalah aku agar kamu mengerti susahnya akan hal yang mustakhil. Sampai aku susah untuk membalikkan kepala bahkan badanku kearah kiri maupun kearah kanan.
dan bahkan berharap kita mampu bertukar posisi hingga aku mengerti kamu dan kamu lebih-lebih mengerti aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar